Alhamdulillah buku Sakinah Bersamamu, masuk short list Polling Anugerah Pembaca Indonesia 2011, untuk nominasi fiksi dan sampul buku.
Pertama apresiasi saya kepada Goodreads Indonesia dan semua yang terlibat dalam penyelenggaraan sebuah perayaan bagi pecinta buku. Terima kasih untuk festival ini
Kedua, bagi teman-teman yang sudah membaca Sakinah Bersamamu, mudah-mudahan berkenan memvote buku ini jika menurut rekan sekalian semangat buku yang mengkampanyekan sakinah dalam keluarga, layak diperjuangkan hingga lebih memasyarakat.
Buku Sakinah Bersamamu memuat 17 cerita pendek dan 17 pembahasannya. Latar belakang saya menulisnya adalah keresahan dari semakin maraknya perceraian di tanah air. Meski saya tidak mengenal, tetap saja berita-berita perceraian di sekeliling membuat hati terluka.
Sedih... membayangkan pasangan yang bersama kemudian menjadi sendiri-sendiri, membayangkan bagaimana seorang istri apalagi jika tidak memiliki penghasilan bisa bangkit dari keterpurukan setelah perceraian, yang pasti menjadi pukulan lahir dan batin. Sementara di sisi lain, seorang ibu tak boleh berlama-lama lemah, sebab ada anak-anak yang memerlukan senyum dan kehadirannya di sisi mereka.
Ada titik-titik yang sama yang dilalui setiap perempuan setelah mereka menikah, persoalan dan ujian yang sama. Sakinah Bersamamu, mencoba menyiapkan atau menguatkan siapa saja yang belum maupun sudah menikah untuk bisa menghadapi berbagai warna pernikahan dengan lebih baik.
Untuk menambah jumlah dukungan terhadap Sakinah Bersamamu. Semoga keinginan bersama agar keluarga sebagai unsur terkecil masyarakat namun berperan besar dalam menyiapkan generasi masa depan yang lebih baik, mendapatkan jalan, salah satunya melalui syiar buku ini. insya allah... amin ya...
Terima kasih untuk vote rekan sekalian (dua kategori nonfiksi dan sampul, ya:).
"Heaven helps those who help themselves." The love of heaven is well expressed here. Love is never a thing you can achieve though you do not do anything. For love there must be something you can do. If you stay still though you want love It is not right. In order to win love, you need to someone too Who should you love first? The first one you should love is just yourself. If you don't love yourself, who will love you? When you love yourself, heaven will love that you too. Love yourself. If you love yourself, heaven will love you as you are. How you look now does not matter. You should love yourself as you are now. Because you are the most important being just because it is you. If you love yourself, heaven will love you who love yourself. Though you don't like yourself Try to love yourself. You have met yourself this life from a precious karmic tie to you now. Like you cannot change your parents or sibilings, you cannot change yourself. The real pride comes when you love yourself regardless how you look, what you have and so on. No matter what happens, the most important one is you yourself. Try to love yourself even though you don't now. If you are satisfied If you love yourself Anything else might look small.
----
I got this from an old friend in South Korea, YJ Let's spread this spirit around the world!
(YJ, a small girl from South Korea loves myself and love you all. Since 2009, this campaign of love has been initiated and now expanded around the globe through international friends out there)
Meskipun sudah menulis sejak kuliah dan menghasilkan puluhan buku, pasangan yang sudah menikah sejak 15 tahun lalu ini tidak pernah menyangka kedua buah hati mereka juga akan mengikuti jejak mereka menjadi penulis.
Sejak kecil Asma dan Isa hanya menanamkan minat baca tanpa pernah sekalipun menuntun mereka menjadi penulis.
”Semuanya terjadi begitu saja. Kami hanya ingin mereka suka membaca awalnya,” kata Asma Nadia, penulis buku Emak Ingin Naik Haji yang fimnya sukses menyabet berbagai penghargaan Festival Film Indonesia di Bandung.
Asma Nadia dan Isa Alamsyah hadir di Surabaya sebagai pembicara dalam talkshow Membangun Keluarga Penulis dan memperkenalkan buku terbarunya Maryam Mah Kapok di Toko Buku Gramedia Tunjungan Plaza, Jumat (7/5)
Asma Nadia yang bernama asli Asmarani Rosalba ini sebenarnya sudah menulis lebih dari 50 judul buku dalam 8 tahun terakhir. Beberapa karyanya seperti Jilbab Traveller, Maryam Mah Kapok,Catatan Hati di Setiap Sujudku, serta serial Aisyah Putri yang sudah terjual lebih dari 50 ribu copy.
Sedangkan suaminya, Isa Alamsyah adalah penulis buku motivasi. Dalam lima tahun sudah menulis lebih dari 100 buku. Buku motivasinya yang terbaru, No Excuse! pernah terjual hingga 50 ribu eksemplar dalam kurun waktu satu bulan. Sebelum menjadi penulis, Isa juga pernah bekerja di beberapa media asing seperti NHK TV dan lain-lain..
Sejak awal menikah, Isa sudah melarang Asma bekerja di luar rumah. Sebagai gantinya, dia membelikan istrinya satu unit komputer. Tidak itu saja, Isa juga tidak memperbolehkan istrinya melakukan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci atau memasak. ”Kita lakukan saja spesialisasi kita. Mencuci atau memasak kan bisa dilakukan siapa saja, sedangkan menulis tidak. Ya kita menulis saja,” ujar Isa yang mendampingi Asma saat wawancara ini.
Tanpa disengaja, kedua buah hatinya, Putri Salsa yang akrab dipanggil Caca (13) dan Adam Putra Firdaus (9) kini sudah menjadi penulis cilik yang diperhitungkan.
Bercerita soal keduanya, Asma mengatakan jalan yang membuka kedua anaknya menjadi penulis bukanlah dia atau Isa.
”Kalau Caca waktu itu karena dia hadir di peluncuran buku salah satu sepupunya dan ditantang oleh editor salah satu perusahaan penerbitan untuk juga menulis,” kata Asma.
Dari tantangan itu, Caca pun akhirnya aktif bertanya kepada sang bunda untuk diajari menulis. Sedangkan Adam, akhirnya menulis buku pertamanya justru karena iri. Karena ayah, bunda dan kakaknya sudah menulis, dia merasa menjadi satu-satunya anggota keluarga yang belum menghasilkan sesuatu.
Meskipun ayah dan ibunya penulis, Asma tetap memberitahukan kepada Caca dan Adam bahwa tulisan mereka belum tentu akan masuk dan diterbitkan oleh penerbit. Mereka harus menyiapkan mental jika tulisannya ditolak, diterima dengan catatan atau diminta melakukan perubahan-perubahan. “Itu repotnya, harus menyiapkan mental anak-anak agar tak sedih, kecewa berlarut-larut saat tulisan ditolak penerbit,” katanya.
Kembali ke belakang, perempuan kelahiran 26 Maret 1972 ini mengatakan dari awal dia dan suaminya memang ingin anaknya gemar membaca dan memahami pekerjaan mereka sebagai penulis. Dia mencontohkan, jika orangtua umumnya memberikan sarung bantal atau bantalan pelindung boks tempat tidur bayi bergambar tokoh kartun, mereka malah memilih yang bergambar huruf dan huruf.
Begitu juga permainan-permainan yang mereka ciptakan. ”Waktu mereka masih balita, kami ajak bermain mencari huruf, cerita interaktif dan lain-lain,” kata perempuan kelahiran Medan ini.
Bahkan khusus bersama Caca, Asma memiliki satu buku khusus Catatan harian ibu dan anak. Dari catatan harian ini, Caca dan Asma bisa saling bertukar cerita melalui satu buku yang bergantian mereka isi setiap hari.
Bicara soal karya kedua anaknya, Asma mengatakan memang ada perbedaan. Jika Caca lebih memiliki imajinasi yang lebih nakal, Adam-menurut bahasa Asma- justru memiliki nafas yang lebih panjang. Artinya, kalimat-kalimat atau isi tulisan Adam lebih padat dibandingkan kakak-kakaknya.
Bicara soal royalti, Asma dan suaminya tidak pernah menyembunyikan jumlah royalti yang diterima masing-masing anak.
Padahal jumlah yang diterima keduanya juga tidak sedikit. Caca misalnya. Dengan lima buku yang ditulisnya, dia bisa menerima lebih dari Rp 4 juta untuk satu bukunya. Belum lagi dari Adam. Secara perlahan Asma sudah mengajarkan mereka untuk berinvestasi. Di antaranya dengan membelikan emas.
Selain untuk investasi mereka berempat juga sudah memiliki 18 titik Rumah Baca yang pendanaannya sebagian berasal dari royalti buku-buku mereka berempat. Di rumah baca ini, mereka menyediakan buku-buku bacaan untuk anak-anak yang tinggal di lingkungan tidak mampu.
Saat ini Asma dan Isa getol menularkan semangat menulis kepada keluarga Indonesia. Alasannya sederhana, dengan menulis yang notabene bisa dilakukan di rumah, ibu-ibu justru bisa memiliki banyak waktu dengan anak-anaknya di rumah. Selain itu, dengan menulis juga bisa mewujudkan mimpi serta bukti eksistensi seseorang.Ditulis oleh Anggraenny Prajayanti untuk Surabaya Post
Ketika menulis buku Emak Ingin Naik Haji yang kemudian difilmkan, saya teringat sosok ringkih seorang kakek dan nenek yang saya temui terlantar di tenda bantuan di Mina. Mereka mengikuti haji dengan paspor hijau. Biayanya 18 juta. Tetapi bukan sekadar biaya lebih murah yang membuat mereka memutuskan berangkat dengan cara demikian, melainkan juga karena usia. Si Kakek berusia 79 tahun, sementara Nenek yang saya temui berusia 76 tahun. Jika melalui ONH biasa, berapa lama kakek bisa menunggu, nak? Masih ada waktu nggak buat kakek untuk berangkat? Begitu pertanyaan kakek tsb terhadap saya.
Cerpen-cerpen di buku Emak Ingin Naik Haji merupakan kisah pilihan. Mengabadikan tahun-tahun saya berjuang untuk tetap menulis. Berbagai tema tersuguh di sana, mulai kisah2 yang paling romantis, hingga realita hidup yang membuat mata saya, yang menuliskannya pun berkaca. Kisah-kisah itu, semoga menghidupkan lagi hati kita yang selama ini tertelan rutinitas, mungkin terasa kosong, atau sebaliknya dihimpit kejenuhan. 12 Kisah di dalam buku Emak Ingin Naik Haji, semoga memberikan tak hanya perenungan, tetapi juga semacam wisata hati, agar setelahnya hati, komponen penting dalam Iman, tersentuh dan tersegarkan kembali.
Buku, selalu merupakan kado cinta saya bagi umat.
Dan buku Emak Ingin Naik Haji, tidak hanya isinya penuh dengan perenungan dan ajakan untuk mencintai orang tua, istri, sesama kita yang dhuafa, dengan cara yang lebih baik... tetapi hasil penjualannya semoga bisa menjadi jalan kebaikan yang lain. Memenuhi mimpi, yang setelah perjalanan haji, mengusik hati saya sejak kaki sampai di tanah haram, sejak melihat jejak kasih Nabi Ibrahim... juga jejak cinta Rasulullah. Bisa berada di tempat yang begitu dekat dengan perjalanan beliau, Nabiyullah tercinta, adalah hal yang luar biasa saya syukuri, semoga hingga usia berakhir, rasa syukur itu terus mengisi hati saya, dan siapa saja yang telah sampai ke rumahNya.
Bukan hal mudah bagi seorang penulis, yang sejak memiliki anak pertama, berpikir bagaimana bisa sampai ke tanah suci dengan kehidupan sehari-hari yang sederhana. Apalagi ketika itu penghasilan dari dunia menulis, jauh dari bisa diandalkan. Saya sempat menabung di takaful, tabungan dana siswa yang saya buka dengan niat tabungan itu, suatu hari bisa Allah cukupkan dengan rizkiNya yang lain, agar saya bisa naik haji. Selain tabungan itu Caca sudah memiliki tabungan pendidikan lain. Waktu itu usia saya belum lagi tiga puluh tahun. Dalam benak saya, insya allah dalam 15 tahun waktu asuransi takaful itu, saya akan dapatkan dana 15 jutaan. Mungkin lebih sedikit dengan bagi hasilnya. Dan saya berharap maksimal di usia 45 tahun, saya semoga sudah sampai ke rumahNya. Dulu tidak terbayang bahwa biaya haji akan terus menerus melesat, hingga tidak ada rasa pesimis ketika memulai menabung.
Tetapi Allah memberikan jalan lebih cepat... alhamdulillah.
Rizki yang tidak disangka-sangka, ketika buku nonfiksi how to yang pertama saya tulis; Jangan Jadi Muslimah Nyebelin, lalu seri Catatan Hati (Catatan hati seorang istri, catatan hati di setiap sujudku, catatan hati karenamu aku cemburu, dan terakhir Catatan Hati Bunda) meraih best seller dan memberikan jumlah royalti yang tidak pernah saya sangka sebelumnya. Cukup untuk mengantar saya ke rumahNya, sepuluh tahun lebih cepat dari perkiraan saya.
Lewat rizki yang diberikanNya melalui dunia menulis itu pula, plus support dari Mbak Helvy dan adik saya, Aeron Tomino, Allah mengundang bunda kami, Maria Erry Susianti, seorang mualaf untuk juga sampai ke rumahNya.
Maret lalu, usia saya masuk ke angka 38.
Alhamdulillah, keluarga sehat dan kompak.
Alhamdulillah saya dan Bang Isa telah sampai ke rumahNya.
Alhamdulillah ada rumah tempat tinggal meski masih mencicil.
Alhamdulillah ada kendaraan, meski juga masih mencicil.
Semgoa Allah berikan rizki hingga kami bisa melunasi cicilan2 yang ada.
Begitu banyak nikmatNya yang dihampirkan bagi saya dan keluarga.
Dan syukur itu, ingin rasanya bisa berbagi kepada lebih banyak orang...
anak-anak dan remaja yang haus membaca... alhamdulillah RumahBaca AsmaNadia (RBA) terus bertambah di tanah air. Bulan ini mencapai 16 tempat.
Tentu bukan perjuangan saya sendiri. Ada teman-teman yang membantu, termasuk mereka yang berada di milis pembacaasmanadia yang menyalurkan infak dan sedekah. Selain Ibu Hj. Yaya dan H. Tony Liando yang tidak hanya sempat merelakan tempatnya dipakai sebagai rumahbaca, juga sekarang membantu melayani memproses berdirinya RBA lain di tanah air, berdasarkan aplikasi yang masuk. Tidak ada syarat-syarat aneh, hanya ketersediaan tempat, lalu pengurus, dan rencana ke depan agar RBA bisa mandiri, juga lokasi yang strategis bagi masyarakat tidak mampu untuk membaca.
Selain ibu Yaya ada Pak Andi yang selama ini memberikan tidak hanya ide-ide demi kemajuan RBA, tetapi juga turun langsung ke tempat-tempat yang sulit dijangkau termasuk membangun ruangan sederhana untuk RumahBaca AsmaNadia di Pulau Lancang Besar. Ada Yunita Candra yang pertama kali membuat cabang RBA di Jogjakarta, Ada Eka yang pertemuan sekali di Bandung menyalakan semangatnya agar ketika lulus bisa membuka rumah baca di Tegal. Dan banyak relawan lain yang sulit saya sebutkan satu persatu, mereka dengan semangat tinggi membuka RBA di Samarinda, PKU, Batam, Balikpapan, Tenggarong, Kebumen, Gresik, Cigombong-Bogor, Ciamis dan Purwakarta. Belum pihak-pihak lain dari donatur yang ikut menyumbang utk rumahbaca.
Dari perjalanan RumahBaca AsmaNadia, saya tahu, perlu lebih dari satu tangan untuk bisa menggelar lebih banyak kebaikan.
Dan mimpi yang selama ini mengusik saya tidak sanggup saya lakukan sendiri.
Menjadi wasilah berangkatnya para saleh dan salehah ke tanah suci.
Perjalanan yang memberikan kebahagiaan luar biasa bagi saya, yang sulit digambarkan. Juga bagi siapa saja yang sudah sampai ke sana.
Duh, bahagianya jika kita bisa menjadi perpanjangan undangan Allah, kepada mereka yang lebih dari layak untuk berada di sana.
Bersama Mizan dan Smaradhana (Mas Aditya Gumay) dengan program Emak Ingin Naik Haji, kami mengadakan lomba menulis kisah inspiratif, sosok-sosok di sekitar yang layak ke tanah suci.
Rencananya Mizan akan memberangkatkan 5 orang diantaranya.
Dan membaca kisah-kisah itu, membuat saya menangis.
Rob, begitu banyak orang yang rindu ke rumahMu
Mereka yang jauh lebih layak dari saya untuk sampai ke tanah suci, Untuk berthawaf di rumahMu, untuk memperbarui cinta kami kepada sang Nabi di Raudhah.
Sementara kami harus memilih hanya 5 diantara para saleh dan salehah itu untuk berangkat umroh.
Tetapi tangan saya belum sanggup untuk mengantar mereka sendirian.
Yang bisa saya lakukan adalah berdoa agar lebih banyak orang-orang yang berada dan sudah sampai ke rumah Allah, berbagi kesempatan ini. Haji wajibnya sekali. Mengingat quota, akan lebih bijak jika kerinduan kembali ke baitullah ditempuh dengan umroh, dan bukan berhaji lagi, kecuali haji badal, menggantikan orang tua, kakek atau nenek atau orang yang sudah tiada untuk berhaji, setelah sebelumnya ybs menunaikan haji untuk dirinya sendiri.
Lalu apa yang bisa saya lakukan, dengan kekuatan yang terbatas tadi untuk bisa mewujudkan mimpi tsb? Menghantarkan mereka ke tanah suci, jika tidak haji setidaknya dengan umroh? Dan dari situlah saya tahu apa yang ingin saya lakukan dengan buku Emak Ingin Naik Haji. Sebuah buku yang penuh cinta, tidak hanya isi, tetapi juga tujuan ketika diterbitkanNya.
Insya allah dari royalti yang ada, seluruhnya digunakan untuk kebaikan. Khususnya memenuhi impian mereka yang salih dan salihat tetapi tidak mampu, ke tanah suci.
Tetapi seperti dalam pengantar bukunya, seorang penulis bisa saja punya niat baik, tetapi tanpa dukungan pembaca yang membeli bukunya; dan juga menjadikannya investasi kebaikan, niat ini tidak akan terwujud.
Waktu itu saya tidak tahu dananya dari mana. Sebab laporan penjualan dari Gramedia masih belum bisa dibayangkan. Tetapi dengan keyakinan akan banyak pembaca yang terketuk dan membantu dengan membeli dan menjadikan buku ini hadiah kepada orang-orang terkasih, maka bismillah...
saya ambil dua nama lain, dari 5 nama yang akan diberangkatkan produser film Emak Ingin Naik Haji.
Dari dua nama itu, seorang diantaranya Ust Tamtam alhamdulillah berangkat ke tanah suci hari ini.
Beliau adalah seorang ustadz dengan kehidupan yang sangat sangat sederhana, kalau tidak bisa dibilang minim, tetapi menginfakkan diri sepenuhnya di jalan Allah.
Ustadz Tamtam aktif mengajak kader dakwah untuk melalui perjalanan jauh hingga ke pelosok-pelosok, ke daerah-daerah miskin di mana iman dengan mudah ditukarkan sejumlah uang, atau beberapa liter beras. Beliau berjuang di sana, membawa pakaian layak pakai, beras, mie dan bahan pokok lain,
sumbangan yang diberikan warga karena simpati pada perjuangan beliau.
Seorang lagi, Ustadzah Mamluanah insya allah bulan Mei ini akan berangkat ke tanah suci.
Beliau adalah pejuang yang berusaha memberikan cahaya bagi daerah di sekitarnya yang tergolong gelap secara akhlak juga dililit kesulitan ekonomi. Tidak memedulikan dirinya yang juga menghadapi masalah sama, bahkan uang listrik terkadang dibayarkan orang lain, Ustadzah ini terus berjuang.
Miris ketika membaca sosoknya yang telah melepas orang lain, warganya yang mampu
umroh atau haji... sementara beliau sendiri masih menyimpan impian itu dalam sebentuk kerinduan.
Pada kenyataannya, royalti buku belum cukup untuk mengantarkan ustadz dan ustadzah ini ke tanah suci. Alhamdulillah ada uluran tangan lain, antara lain dari PTRI Jenewa, Bapak Perwakilan Tetap RI untuk Jenewa sendiri ikut menyisihkan rizki yang diberikan Allah, juga rekan-rekan;warga Indonesia di Swiss yang saat itu berbuka puasa bersama, setelah saya sampaikan tentang buku ini, mereka langsung membuka dompet dan memutuskan bahwa infak hari itu diperuntukkan untuk ini.
Tulisan ini saya sampaikan, sebagai kabar gembira bagi teman-teman pembaca yang ikut membantu investasi kebaikan ini
dengan membeli buku Emak Ingin Naik Haji. Alhamdulillah.... insya allah menjadi catatan kebaikan bagi rekan semua.
Terima kasih telah memercayai selama ini...
Semoga proyek ini terus bergulir...
Mohon bantuan rekan semua, untuk buku Emak Ingin Naik Haji.
Selain membeli:) akan berarti jika teman-teman yang sudah membaca membuat review dan diposting di facebook, blog, atau ke milis-milis.
Semoga dengan begitu lebih banyak lagi tangan-tangan yang meraih buku Emak di toko buku,
dan semoga ada nama-nama lain yang bisa sampai ke tanah suci, dan banyak kebaikan lain yang bisa dilakukan dari royalti buku ini.
Terima kasih untuk kebersamaan selama ini.
Sahabat pembaca yang selalu setia mengintip judul buku2 lain yang saya tulis, baik di multiply, milis, atau fan page Asma Nadia di facebook.
Terima kasih telah membantu mewujudkan impian, yang tidak mungkin saya wujudkan sendiri, dengan kondisi saat ini.
Rekan sekalian telah membuat saya lebih meyakini kekuatan kebersamaan.
Dengannya, ketiadaan materi bukan halangan untuk melakukan banyak kebaikan.
Juga seluruh pihak yang telah mengiringi langkah saya dengan nasehat, doa, dan banyak pelajaran... terima kasih. (khusus bio 4, terima kasih telah memberi ruang bagi rani mempromokan Emak di tengah reuni:))
(untuk semua yang membaca, mohon doanya buat asma, ya? juga buat semua pembeli buku Emak Ingin Naik Haji, dan semua yang sudah membantu... hingga mimpi ini terwujud...semoga tidak berhenti di sini. amin)
-- Asma Nadia
TELAH TERBIT: Jilbab Traveler: Berjilbab Nggak Berarti Kamu Nggak Bisa Keliling Dunia! -- sebuah buku yang akan menyalakan lagi mimpi2 lamamu yang terkubur... inspiring!
2. Dana Sosial Milis Anadia Emak Naik Haji, pasien tidak mampu, musibah kemanusiaan, palestina kita An. Asmarani Rosalba, BCA Margonda Depok, No. Rek: 8690632111 Mohon SMS setelahnya (jika ada amanah khusus): Ibu Maria Amin (08158873733)
3. Gerakan RumahBaca AsmaNadia Wakaf tanah RumahBaca AsmaNadia, pengadaan buku (Dulu: Rumah Cahaya Kami: rumahcahayakami.multiply.com) Rek. An Asmarani Rosalba, BCA Margonda Depok, No. Rek. 7650334056
Saya pakai jilbab pada detik-detik terakhir kelas 3 SMP. Waktu itu sempat juga mikir… apakah nantinya ruang gerak bakal terbatasi dengan jilbab? Apa ada hal-hal yang menjadi lebih sulit ketika saya berjilbab? Apalagi salah satu mimpi saya keliling dunia… entah uangnya dari mana, harus punya pekerjaan apa, atau harus menikah dengan siapa (hehehe…) agar mimpi itu terwujud.
Maklum saya berasal dari keluarga sangat sederhana, yang selama dua puluh tahun di Jakarta, mengontrak dari rumah kecil yang satu ke rumah kecil lain, makan pas-pasan… segala sesuatu serba ngepas.
Mengingat kondisi itu, jalan ke luar negeri seperti mimpi yang terasa jauh. Apalagi saya bukan remaja yang punya ‘kutukan’ kaya, alias dari sananya memang sudah kaya. Misal punya ortu kaya, kakek ama neneknya juga kaya… terus kakeknya kakek sama neneknya nenek juga kaya banget, hehehe. Intinya kalangan mapan yang nggak pernah susah.
Nah mimpi jalan-jalan ke luar negeri itu bermula dari pintu kulkas.
Iya, serius… cuma dari pintu kulkas, terutama pintu kulkas almarhumah Oma yang dulu tinggal di Bandung, terus pintu kulkas sanak saudara yang kaya, sampai pintu kulkas tetangga satu gang, yang tinggal di sebuah rumah besar di huk.
Nah, di pintu kulkas mereka bertaburan magnit souvenir dari berbagai negara. Saya suka sekali melihat souvenir kecil dengan gambar-gambar khas, yang menempel di pintu kulkas mereka. Saking sukanya saya sering berlama-lama memandangi. Cuma memandang saja tanpa berani menyentuh. Takut jika saya coba ambil dan lihat dari dekat, malah terlepas dari tangan, lalu terjatuh dan pecah. Saya nggak punya duit jajan yang cukup untuk menggantinya. Apalagi souvenir seperti itu biasanya memang dibeli langsung dari negara asalnya (meski sekarang banyak buatan Cina). Nggak kebayang kalau harus ganti. Dan pastinya saya nggak mau nyusahin orang tua hanya gara-gara menuruti keinginan yang nggak penting itu.
Ketika saya lulus SMA dan diterima kuliah melalui jalur PMDK, wah bahagia betul. Nggak pakai ikut sipenmaru (sebutan tes masuk ke perguruan tinggi negeri kala itu), saya sempat merasakan masa-masa indah kuliah di IPB. Masa-masa di mana mimpi saya bersinar lebih terang.
Tapi kuliah saya ternyata tidak bisa selesai karena satu dan lain hal. Tentang ini kapan-kapan saya ceritakan di buku yang lain yah. Yang jelas bukan karena drop out dari kampus, apalagi karena otak saya yang lemot.
Kenyataan ini sempat membuat mimpi saya meredup. Kalau nggak kuliah… terus gimana caranya saya bisa ke luar negeri, dong?
Apalagi saya kurang yakin akan mendapatkan suami kaya, hehehe. Soalnya ya itu lagi… kembali ke ‘kutukan’. Biasanya orang-orang kaya hanya menikah dengan orang-orang yang memang memiliki ‘kutukan’ sama. Ada sih beberapa pengecualian. Tapi mengingat tampang dan penampilan saya yang biasa aja dan jauh dari bening, terus kali di utan panjang yang airnya hitam banget. Hihihi… apa hubungannya coba?
Soal kali yang airnya hitam itu, nggak sih … seumur hidup saya belum ngalamin berenang di sana. Dan ini penting ditegaskan demi nama baik saya di depan anak-anak. Hihihi… soalnya adik saya, Aeron pernah meledek begini ketika suatu hari kami melewati kali utan panjang,
“Nah, di kali yang item dan butek inilah bunda dulu sering berendam dan berenang ke sana kemari!”
Sopan banget!
Kembali ke soal calon suami, ya begitu deh. Saya harus membuang kemungkinan punya suami yang memiliki kutukan kaya. Saking terasa impossible-nya.
Nah tapi… kalau yang rajin bekerja terus pintar nyari uang… yah ini mungkin masih bisa dipilih-dipilih… (hehehe… udah kayak pedagang di kaki lima aja…).
Apa kalau kepepet, jadi TKW aja?
Saking penginnya ke luar negeri, pikiran begitu sempat terlintas juga. Tapi gimana kalau nanti saya ditaksir majikan? Hihihi…ge er amat!:P
Atau yang lebih buruk dapat majikan kejam? Bisa-bisa pulang cuma badan doang alias nyawa selembar tertinggal di negeri orang. Sedihnya!
Anyway, setelah nggak kuliah, saya ambil sekolah guru TK. Makin jauh dong dari impian… apalagi waktu itu gaji guru TK minus banget. Saya sempat ngobrol sama seorang guru TK, dia suami dan bapak dari tiga anak. Sebagai guru, gajinya di tahun 95-an itu hanya seratus dua puluh ribu. Ampun, kepala keluarga gitu lho… berat banget! Saya salut sama komitmennya juga teman-teman guru lain yang tetap mengajar meski secara materi tidak sepadan.
Selain guru TK, saya sempat juga belajar bahasa Arab. Bukan khusus untuk persiapan kali-kali bekerja ke luar negeri, melainkan biar lebih paham pas membaca Al Qur’an.
Terus saya juga ambil les Bahasa Inggris di beberapa kursus. Lumayanlah, pikir saya. Ada harapan dikit. Belum sampai ke Amerika atau Inggris, paling nggak saya bisa dikit-dikit ngomong Inggris, hehehe. Pokoknya ada inggris-inggrisnya aja waktu itu, saya udah girang banget.
Lalu saya menikah dengan lelaki dari keluarga sederhana, yang harus membiayai kuliahnya sendiri. Satu lagi bukti keakuratan tebakan saya soal saya nggak bakalan konek sama kalangan yang punya kutukan kaya tadi. Paling nggak itu membuktikan saya cukup tahu diri (halah!:P)
Pendek cerita, sebagai pasangan muda, kami sangat hemat masalah uang. Lebih-lebih waktu krisis. Bisa makan sehari-hari plus beli susu buat Caca aja udah bagus… boro-boro mikir jalan-jalan ke luar negeri.
Tapi mimpi yang nyaris terlupakan menemukan bentuk ketika suatu hari suami membawa pulang sebuah kulkas satu pintu. Kecil, tapi membangkitkan lagi semangat untuk mengejar mimpi. Bayangan souvenir-souvenir magnit di beberapa pintu kulkas yang saya eja waktu kecil, kembali menari-nari di kepala.
Selain kulkas, ‘perabot’ yang terbilang mewah bagi saya saat itu adalah sebuah komputer yang dibeli suami dengan memaksa diri, sebab tahu saya suka menulis. Dulu saya menulis dengan mesin tik pinjaman, lalu mesin tik milik sendiri. Dengan bantuan mesin tik itu saya sempat mengirimkan beberapa tulisan ke majalah dan mengikuti lomba, pernah menang juga.
Setelah menikah agak sulit bagi saya untuk berdisiplin menulis dengan mesin tik. Sebab seringkali tulisan tidak selesai dalam satu waktu. Sementara membiarkan kertas-kertas bertebaran dekat mesin tik, juga tidak aman dari tangan-tangan Caca. Apalagi rumah kontrakan ketika itu, tidak memiliki banyak kamar.
Tetapi keberadaan komputer itu membuat saya lebih rajin menulis. Meski dulu kesannya menulis merupakan pekerjaan yang nggak terlalu menjanjikan, kalau nggak bisa dibilang sulit diandalkan untuk menghidupi dapur. Tapi mungkin karena saya seorang istri, saya melakukannya bukan atas nama kewajiban mencari nafkah… tapi lebih karena hobi. Apalagi keluarga mendukung, mereka membantu agar saya tetap menulis.
Begitulah, kalau anak-anak tidur, saya menulis. Menunggui Caca main, saya menulis. Ketika anak-anak lapar… ya saya suapin dong, hehehe.
Tanpa saya sadar… upaya terus memproses diri lewat bidang yang satu ini, meski waktu tidur atau istirahat sering berkurang, justru di kemudian hari mengantarkan mimpi saya menjadi kenyataan.
Allah memperjalankan saya… awalnya ke Brunei, lalu ke Thailand, Singapore, Malaysia, Korea… Mesir, Hongkong, Beijing, Macau dll. Negara dan kota-kota yang awalnya hanya saya lihat di peta, di koran, majalah, atau televisi. Hampir semuanya gratis! Alhamdulillah.
Keliling dunia?
Memang belum.
Tapi saya masih optimis.
Dan alhamdulillah, jilbab bukan hambatan bagi saya untuk mengembara di bumi-Nya yang luas. Tentu saja ada kondisi-kondisi tertentu yang kadang harus diperhatikan. Apalagi jika berjalan sendiri. Idealnya memang kita didampingi suami, atau saudara. Tetapi dalam situasi dan kondisi sekarang, seringkali kesempatan traveling datang kepada perseorangan. Dan merupakan tiket langka dan mahal untuk belajar tentang kebudayaan, sejarah dan peristiwa di masa lalu maupun kekinian.
Kesempatan yang saya percaya, penting dalam upaya pematangan diri.
Saya kira cukup banyak muslimah berjilbab di tanah air yang mau nggak mau, terpaksa melakukan traveling sendirian. Baik karena pekerjaan, kursus, backpacker, atau pun karena mendapat kesempatan kuliah di luar negeri, sayang kalau tidak digunakan untuk sekalian keliling. Yang lebih happy mungkin jika bisa mengiringi suami bertugas, atau bahkan sekadar liburan bersama.
Lalu adakah persiapan khusus atau tips bagi muslimah berjilbab dalam melakukan perjalanan sendiri?
Ada. Dan buku ini, Jilbab Traveler, selain memberikan banyak informasi wisata di luar negeri (buku-buku yang memandu tentang ini umumnya hanya diterbitkan dalam bahasa Inggris), juga memberikan bekal bagi rekan-rekan yang mendapatkan kesempatan berkunjung ke negara tertentu, hingga perjalanan lebih maksimal. Selain itu buku ini juga dilengkapi tips-tips serta catatan khusus yang akan membantu muslimah ketika traveling..
Sengaja saya mengajak rekan-rekan lain, agar informasi negara yang ditampilkan lebih banyak dan kisahnya menjadi sangat variatif.
Lalu apa lagi arti buku ini?
Ah, bagi rekan-rekan yang belum mendapat kesempatan menginjak tanah orang, saya berharap buku ini bisa membantu melakukan persiapan untuk perjalanan-perjalanan di tanah air.
Selain mudah-mudahan bisa juga menjadi awal dari sebuah mimpi. Mimpi apa saja. Sebab konon, mimpi merupakan setengah perwujudan dari keinginan seseorang.
Seperti magnit di pintu kulkas yang saya pandangi lekat-lekat. Dulu sekali…
******
keterangan: buku Jilbab Traveler bisa didapat di toko buku Gramedia dan pemesanan online: penerbitasmanadia@gmail.co
Apa kabar iman? Semoga tetap indah bersemayam dalam hati. Apa kabar cinta? Semoga tetap dalam nikmat sehat dan perlindunganNya semata... diri dan keluarga.
Melalui email ini saya ingin berbagi cerita tentang tiga hamba Allah yang sedang mendapatkan ujian sakit yang tidak ringan... Mohon berkenan membacanya... Mohon mendoakan mereka setelahnya. Menyelipkan nama mereka bakda shalat kita... setiap kali kita tersentak akan rasa syukur atas nikmat sehat yang Allah berikan kepada kita, anak-anak, orang tua dan keluarga.
Semoga siapa yang memudahkan, nantinya mendapatkan kemudahan dari Allah...ketika kita begitu membutuhkan. Siapa yang melapangkan dari kesulitan, semoga Allah lapangkan dia saat kesulitan menyapa.
3 kisah di bawah ini insya allah benar... tidak ada rekayasa dan bersumber dari pihak yang bisa dipercaya kebenarannya.
1. Kunang-kunang kecil itu...
Kaki-kaki kecil itu lincah bergerak. Ditangannya sepiring nasi ayam dan sendok yang siap disuapkan. Berlarian ia mengejar bocah gembil 3 tahun-an yang sulit makan. Ia kakak yang baik. Ia kakak teladan, gumam saya. Ia tak pernah lelah berkejaran, berlari berputar-putar seperti gasing, berusaha segenap daya untuk menyuapkan makan siang itu di mulut adiknya yang selalu riuh dan protes. Meski sang adik kerap menggoda dengan berlari zig-zag dan tertawa-tawa menyemburkan makanannya kembali, sang kakak tetap gembira menyuapinya. Berapa umurnya? Ah, waktu itu usianya baru sekitar 9 tahun. Dan sang ibu sedang hamil tua, terlalu lelah untuk bermain kejar-kejaran seperti itu. Dan ia dengan tangkas mengambil alih peran ibu yang tengah letih.
Saya pernah bilang ke ibunya. “Mbak, Indun itu terlalu manis untuk seorang anak-anak.” Tak ada maksud apa-apa. Hanya kekaguman spontan melihat bocah kecil yang begitu terampil mengurus adik-adiknya. Sang ibu hanya tertawa dan mengangguk. Dalam hati saya berkata, tentu karena ibunya yang juga luar biasa mendidiknya. Seorang anak-anak, dalam bayangan saya, tentulah memiliki potensi ‘kenakalan, kebandelan atau pembangkangan-pembangkanga n’ meski dengan kadar yang berbeda-beda. Tapi Indun terlalu manis, terlalu penurut, dan ah… terlalu sempurna untuk seorang anak-anak. Ia selalu bersegera ketika ayah dan ibunya meminta sesuatu. Tak pernah sekalipun perintah itu diulang. Ia akan bergegas bahkan ketika ibu atau ayah belum menyelesaikan kalimatnya.
Saya pernah tertegun mendengar cerita Mas Tomi, ayahnya. Sebagai anak, Indun belum pernah sekalipun menyusahkan. Ia sudah terbiasa mandiri sejak kanak-kanak, bahkan ia sendiri lupa apa ia pernah mengajarkan hal-hal seperti itu padanya. Ketika ayah dan ibu masih berjuang membuka kelopak mata yang berat dan adik-adiknya asyik bergelung selimut, si sulung sudah terbangun berjingkat menyalakan lampu kecil di kamar mandi. Kecipak air wudhu si Sulung yang rutin terdengar setiap pagi menjadi alarm yang manyadarkan seisi rumah bahwa pagi telah menjelang. Ia bagai kunang-kunang kecil yang terus berpendar membuka hari dengan senyuman. Padahal waktu itu ia masih sekolah TK!
Jam enam pagi ia sudah bersih dan wangi. Padahal sang adik perempuan yang akan berangkat bersamanya masih berdebat dengan sang ibu tentang mengapa ia harus segera mandi dan sarapan. Ia selalu begitu. Setiap pagi menunggu adiknya selesai berkemas sambil mengulang pelajaran di ruang depan. Sesekali ia melongok ke kamar mereka, memeriksa apakah perlengkapan sekolah adiknya sudah siap semua. Ia merapikan berjajar-jajar di tempat tidur sambil menunggu waktu. Ah, siapa yang meragukan ia bukan anak yang baik?
Sore hari sepulang sekolah pun begitu. Tak ada yang menyuruhnya merapikan pakaian. Tak perlu ada yang mengingatkannya mengaji ke masjid. Ia akan lakukan sendiri dengan riang gembira. Ia akan bergegas memacu sepedanya ke surau belakang rumah yang berjarak sekitar 500 meter dan selalu menjadi murid pertama yang tiba di sana. Tikar digelar, meja-meja kecil di letakkan berjajar. Lalu dengan takzim ia menunggu sang ustdaz datang sambil lamat-lamat membaca Alqur’an.
Lalu tiba-tiba saja berita itu terdengar. Bagaimana mungkin saya tidak menggigil?
Indun, si kakak teladan, kunang-kunang kecil itu terserang stroke. Kaki dan tangannya lumpuh. Ia tak bisa lagi bergerak licah berlarian menyuapi adiknya. Ia harus berjuang keras untuk menggerakkan kaki dan tangannya. Bagaimana bisa?? Ia masih sangat kecil? Bukankah penyakit itu sewajarnya tidak menimpa anak-anak? Air mata saya kembali mengalir mengingat pertemuan kami dua minggu lalu di Resto pecel Madiun. Ia tampak sehat, momong 3 adiknya dengan lincah. Ia seperti anak-anak lain. Tak ada yang berubah. Pipinya merona merah, matanya bersinar dan senyumnya terus mengembang.
Ternyata, menurut sang ayah, sahabat baik keluarga kami, Indun stroke karena penyakit jantung bawaan sejak lahir. Entah bagaimana penjelasan medisnya, tapi kurang lebih karena jantungnya tidak berfungsi dengan baik untuk memompa darah sehingga ada penyumbatan di pembuluh darah. Menurut dokter, ada kemungkinan operasi namun dengan biaya yang sangat mahal.
Sahabat, dari lubuk hati terdalam, saya memohonn keikhlasannya untuk mendoakan ananda Indun, semoga segera disembuhkan, segera dilenyapkan semua penyakitnya. Jika ada diantara para sahabat yang memiliki informasi tentang rumah sakit yang dapat memberikan keringan atau lembaga-lembaga yang dapat membantu, mohon dapat diinformasikan kepada kami.
Saat ini Alumni Budi Mulia tengah menggalang dana untuk meringankan beban Mas Tomi dan sekeluarga. Apabila ada sahabat yang berkenan menyalurkan bantuannya mohon dapat dikirimkan ke Bambang Soetono, Bank BCA no 3451644716 atau Bank Mandiri No 122-00-0486934-6
Kaki-kaki kecil yang berlarian itu kembali membayang. Ia si kunang-kunang kecil, jangan biarkan sayapnya lemah dan ringkih... biarkan ia tetap menjadi kunang-kunang yang berpendar membuka pagi dengan senyuman....
Ia kunang-kunang kecil kebanggaan kami... Muadz membutuhkan kasih kita... (sumber dari fb adesiti) --
2. Muadz kecil kita membutuhkan bantuan...
Assalamualaikum, Namaku Muad'z Jamaluddin Hamid, umurku sebentar lagi 2 tahun, tepatnya Maret ini. Nama Abiku Marhaban Syaiful Hamid dan Umiku Iseu Siti Aisyah. Kecil-kecil gini aku udah punya adik namanya Muhammad Athian Hamid (9 bulan). Kata Umiku dari sejak lahir aku didiagnosa tetraloggy fallot (kelainan jantung bawaan), ah gak tau apa artinya.......Kata dokter ada empat kelainan, penyempitan pembuluh darah ke paru-paru, bocor, harusnya dua pintu ini malah satu pintu sama jantungnya bengkak.
Gak tau deh istilah kedokterannya banyak, ada PDA, VSD de.. el..el. Aku sih gak mau dipusingkan dengan istilahnya, yang jelas yang aku rasakan dada terasa sesak, kayak habis lari, itu tiap hari. Yang paling gak enak kalo lagi batuk ama flu, dada ini terasa sesak sekali, sampai kulitku terlihat hitam dan kuku-kukuku sama bibirku hitam. Makin keliatan lagi kalo lagi nangis. Umiku selalu ngingetin aku jangan suka nangis, soalnya kalo nangis jadi lemes. Tapi gimana yah kerjaanku nangis melulu. Rasa sakit kadang-kadang suka muncul, kalo tidur malem-malem suka jerit-jerit. Sakit sih. Kadang Umiku gak ngerti apa mauku, makanya nangis, maklum aku belum bisa ngomong, dan juga belum bisa jalan.
Ah, seharusnya aku sudah jalan seperti yang lainnya. Berat badanku juga terus merosot, aku susah makan. Bukan aku gak mau, kalo makan suka batuk-batuk trus muntah. Aku sekarang kalah sama adikku, dia tumbuh makin besar dan cakep, kulitnya putih. Dia suka nindihin aku, sampai hidungku berdarah. Aku mudah sekali berdarah, darahnya item lagi. Aku gak mau dideketin dia, bukannya aku gak sayang, tapi sakit badanku.
Kata dokter, aku harus segera dioperasi, mumpung masih bisa dilakukan. Kalo sudah rusak gak bisa dioperasi, malah katanya bagian bilikku sudah gak berkembang. Katanya operasinya dua tahap dan butuh dana 150 juta. Sekarang abiku lagi ngurusin askeskin, tapi gak tau kabarnya sampai sekarang. Denger-denger kabupaten Bandung udah habis kuotanya. Saat ini hanya makanan kesehatan jadi andalanku buat bertahan. Aku merasa semakin lemah, karenaku gak mau makan. Please teman adakah yang mau bantu aku? Meringankan deritaku? Terima kasih aku ucapkan sebelumnya.
(bantuan untuk Muadz bisa ditujukan ke: Rekening a/n Marhaban No Rek 1012746322 Bank Muamalat Indonesia Cabang Bandung Cp. Email Iseu: aisyah24@gmail.com Telp: 081394079448)
3. Tentang Rita dan 4 kali perjuangan melawan kanker itu...
Assalamu'alaikum wr wb, Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Ijinkan melalui surat ini saya bercerita tentang : Kisah yang Benar-benar Nyata Tentang Rita. Rita*), berjilbab, 40 th, pada saat ini sedang berjuang melawan penyakit kanker untuk yang ke tiga kalinya. Yang pertama: payudara 7 th yl (sudah diambi). Yang kedua Desember 2009, rahim diambil (kanker servix). Sehat sebulan, meneruskan bekerja, karena kecapean, drop. Saat ini ia terbaring di RS Dharmais sebagai pasien Jamkesmasy. Sel-sel kanker sudah menyebar ke liver dan ginjal, perutnya membesar, pernah disedot, dalam waktu 24 jam membesar lagi (isinya cairan).
Yang paling menakjubkan dari Rita adalah Semangat Hidupnya, sangat tinggi! Ketabahan dan kesabarannya di atas rata-rata orang pada umumnya. Ketika serangan sakit sedang datang, ia hanya meringis dan menyebut Allah, Allah, Allah, betapa nikmat ujian Engkau. Tidak pernah mengeluh, senyuman terus mengembang pada tamu yang bezuk. Katanya : Tidak Ada yang tidak Mungkin bagi Allah. Yang penting aku berusaha semaksimal mungkin. Apalagi bagian-bagian dari tubuhku, nyawa sekali pun, kalau Allah mau ambil, kuserahkan....Aku berterimaksih kepada Allah yang telah memberi aku kehidupan, dan aku ikhlas Allah memberi sakit, asal Ia mengampuni dosa-dosaku, tetapi sebagai hamba, izinkan aku melihat anak-anaku dewasa, menikah, aku ingin melihat cucu-cucuku...
Bahkan saat terakhir saya membezuknya ia bilang ingin berangkat haji. Betapa nikmatnya ya, shalat di Masjid Nabawi, thowaf dan semuanya... Ia juga berencana keluar dari pekerjaannya dan menulis buku tentang kisah hidupnya, yang sejak menikah sampai mempunyai dua orang anak, hanya KDRT yang ia alamai (secara fisik, psychis, ekonomi dan sexual). Ia sungguh perempuan yang luar biasa! KDRT yang terakhir dialami adalah ketika kepalanya dibentur-benturkan ke tembok dan diseret ke luar rumah (halaman) sampai hidungnya berdarah-darah. Barulah ia tidak sanggup dan pulang ke rumah Ibundanya. Pada waktu itu anak sulungnya 4 th, adiknya 1 tahun. Pada saat itu barulah seluruh keluarga mengetahui bahwa ia menikah dengan "orang sakit", karena selama ini ia tidak pernah mengeluh sepatah kata pun! Kemudian ia menggugat cerai. Ketika menjanda itulah ia terkena kanker payudara. Ia sudah berniat tidak akan menikah lagi (trauma)
Tapi Allah berkehendak lain, suatu hari ia berkenalan dengan seorang pemuda yang lebih muda. Anak-anaknya jatuh hati kepada pemuda itu. Pemuda itu pun sangat sayang pada mereka. Rita menganggap pemuda itu sekedar teman, tapi kedua anaknya selalu merengek minta Ayah Sal*). Pemuda itupun meminta ia menikah demi anak-anak. Neneknya menggoda, bagaimana kalau Bunda menikah dengan Ayah yang dulu. Kedua anaknya dengan sangat tegas :m e n o l a k. Si Sulung pernah kabur ke Terminal Grogol ketika melihat Ayah kandungnya mengunjungi mereka. Si Sulung adalah saksi perlakuan ayahnya terhadap ibunya sejak balita. Setelah melalui shalat istikharah berkal-kali, Rika mendapat isyarat bahwa Sal adalah sebuah takdir.
Sekarang Sal adalah perawatnya yang sangat setia dan sabar. Inilah ternyata rencana Allah. Ia sangat berterimakasih kepada anak-anaknya yang pernah "memaksa" ia menerima Sal menjadi Ayah mereka. Saya pernah berkata kepada Sal : " maafkan Rita ya, tidak bisa menjadi isterimu yang sempurna. Kasihani Rita ya. Kalau kamu ikhlas, Allah telah menyiapkan hadiah buatmu, Sal..."
"Aku ikhlas dan ridha 1000 %. Justru aku sering merasa bersalah tidak bisa memberi nafkah dengan baik pada anak-anak...". Itu jawaban Sal. Rita bercerita, sebelum rahimnya diambil ia berkata pada suaminya : "Menikahlah lagi, Sal, asal anak-anak tidak diberitahu dulu kerena mungkin mereka akan sangat kehilangan. Nanti pelan-pelan kuberitahu, pasti ngerti, kok!". Tetapi ia menolak tawaran itu dan menjawab "aku akan mendampingi dirimu sampai maut memisahkan kita".
Pada saat tulisan ini saya buat, Rita sedang menjalani berbagai tindakan medis. Tubuhnya sudah penuh bekas suntikan. Dokter akan melalukan laparoscopy (kalau tidak salah begitu istilahnya). Dari situ akan diketahui tindakan apa yang bisa dilakukan: kemo atau operasi. Rita barusan mengirim sandek (sms). "Insya Allah aku kuat, aku harus sembuh, anak-anak membutuhkan aku. Mereka mau ujian Bulan Maret ini. Aku mau nulis. Aku akan bilang pada semua orang bahwaseberapapun kesesuahan/kesulitan yang kita hadapi, Allah melarang kita putus asa. Usaha, usaha, doa, doa. Allah tidak tidur, Mahamendengar. Apalagi banyak orang membantu dan mendukung. Aku pasti sanggup menanggunya, kalau tidak, Allah sudah mengambil nyawaku...."
Saudara-saudaraku, anak Rita, Sulung mau ujian kelas III SMU. Adiknya mau ujian klas III SMP (laki-laki). Ayah kandung mereka sama sekali tidak peduli, bahkan ketika Rita mengemis minta bantuan, khusus untuk bayar SPP. (Terpaksa Rita lakukan karena kasihan melihat Sal banting tulang, kerja). Sulung sekolah sambil jualan kue-kue....
Yang kuceritakan ini, sungguh-sungguh Kisah Nyata. Nyata dan Nyata, bukan fiksi. Sungguh-sungguh sedang terjadi. Ijinkan saya memohon kepada saudara-saudara : Panjatkan sepotong doa untuk kesembuhan, kekutan, ketabahan Rita menjalani cobaan Allah. Panjatkan doa untuk Sal. Semoga mereka dapat melewati ujian berat ini dengan hasil : LULUS. Doakan Rita, agar ceita-cita shalat di Masjid Nabawi dan mengelilingi Ka'bah tercapai, amin ya Rabbal 'alamin...
(Seperti diceritakan Mbak Nening Mahendra-milis pembacaasmanadia- Bantuan untuk Rita (Rika Adriana) bisa disampaikan melalui: Rek BCA 3051242970 atas nama Rika Adriana E (Jakarta).
---
Nikmat sehat bagiku ya Allah bagi anak-anak dan semua yang kucintai Semoga bisa kuungkapkan rasa syukur paling tidak dengan mendoakan sungguh-sungguh setiap saudara yang sakit... semoga Allah memberikan kesembuhan, kekuatan untuk berjuang...
amin ya Allah
wass
Asma Nadia
ps: tadi malah lepas menjenguk Rika, juga Teh Pipiet Senja saya mendapat sms dari Mas Gola Gong yang berbunyi: "Beruntung yang sehat, dik. Bisa mengunjungi yang sakit..." Mas Gong sendiri sedang sakit, tapi masih berpikir untuk membantu mereka yang sakit walau dari jauh...dengan perhatian, doa dan apa yang bisa diberikan... kita doakan mas gong juga ya dan teh pipiet. Duh, harus lebih baik bersyukur...
Bagaimana awal mulanya terjun di bidang penulisan? Papa [H. Amin Usman] pengarang lagu-lagu Dewi Yul. Jadi dari kecil kami dekat dengan seni. Lalu Asma itu kecilnya sakit-sakitan. Pernah sakit jantung, paru-paru, gegar otak, dan ada tumor di leher. Jadi bolak-balik ke rumahsakit. Kami dulu miskin, tinggal di pinggir rel kereta api. Tapi Mami selalu punya cara untuk membelikan kami buku. Mami selalu membelikan buku saat saya harus menunggu pemeriksaan di RSCM, supaya Asma nyaman dan bisa membaca. Sekarang Asma baru tahu bahwa dengan membelikan buku, Mami sering tidak makan siang. Buku-buku itu kami kumpulkan dan ketika usia saya 7 tahunan kami membuat tempat penyewaan buku. Uang sewanya kami belikan buku lagi. Itu yang membuat Asma suka membaca? Ya. Kondisi dulu kami sangat sederhana, kalau tidak bisa dibilang miskin:) tapi Mami percaya bahwa banyak kebaikan dari membaca. Asma merasa mendapatkan buku-buku atas pertolongan Allah. Dari situ Asma merasa harus membuat Rumah Baca, sehingga kami membuat Yayasan Asma Nadia yang bisa menyalurkan buku-buku ke sepuluh Rumah Baca di tanah air. Rumah Baca untuk anak-anak yang tidak mampu. Kami pilih lokasi yang membutuhkan `penerang'. Masih yayasan kecil, namun kami berusaha untuk menyisihkan royalty yang masuk untuk membeli buku adik-adik. Asma juga berkerjasama dengan penerbit-penerbit untuk minta buku murah dari mereka. Lalu mulai mengarangnya? Dulu Asma dan kakak [Helvy Tiana Rosa] sering protes sama ending cerita di buku-buku yang kami baca. Akhirnya kami buat saja cerita-cerita sendiri. Waktu di SMP, Asma meminjam mesin tik teman, dan mulai membuat karangan. Tapi banyak yang mengkritik. Asma itu terganggu dengan rasa percaya diri waktu menulis. Sampai Helvy bilang, bahwa Asma seharusnya tidak lagi memikirkan masalah bakat atau tidak bakat, karena pada masa itu tidak banyak pengarang perempuan yang menulis dengan misi untuk mencerahkan. Asma akhirnya membuat komitmen dan membuat buku. Buku pertama yang dibuat dengan tidak percaya diri itu ternyata sambutannya luar biasa. Bahkan banyak dicetak ulang. Asma cuma melihat bahwa Allah swt menunjukkan jalan dengan cara-cara yang sangat mencolok. Setelah itu penulis perempuan ini meraih beberapa penghargaan secara berturut-turut, antara lain: Adikarya IKAPI sebagai salah satu penulis fiksi terbaik nasional, Penghargaan dari Majelis Sastra Asia Tenggara sebagai peserta terbaik dalam 10 tahun MASTERA, Mizan Award sebagai penulis fiksi terbaik dalam 20 tahun Mizan, Penulis Terbaik Lokakarya Penulisan Naskah Drama yang diadakan FIB UI dan Dewan Kesenian Jakarta. Juga mendapat kesempatan mengikuti Writers in Residence di Seoul selama enam bulan dan di The Cateau De Lavigny, Swiss. Tapi semua itu ternyata tak membuat Asma puas. Ia merasa perlu membaginya pada banyak orang lewat berbagai proyek yang digagasnya. Apa tidak takut kehabisan ide? Alhamdulillah, sekarang masih ada tempat di hati pembaca. Tapi Asma selalu berusaha mengajak –khususnya perempuan Indonesia– untuk menulis dan menggerakkan perempuan Indonesia menulis di milis asmanadia. Dan Alhamdulillah bagi ibu-ibu itu akan lebih mudah bagi mereka untuk menuliskan pengalaman mereka. Ternyata dari situ mereka bisa berkembang menjadi seorang penulis. Bagaimana perkembangan milis tersebut sekarang? Milis itu sekarang anggotanya lebih dari 2000 orang. Kami membuat beberapa antologi. Dari satu buku kumpulan terdiri dari 13 atau 15 pengarang yang terambil dari milis. Kira-kira dari semua yang telah membuat buku ada sekira 10 orang. Tapi selain itu Asma kan dari Forum Lingkar Pena. Kami punya tradisi membuat antologi kasih, yaitu setiap penulis mengirimkan tulisan atau karya, misalnya 1-2 tulisan dan penerbit membayar di awal ketika tsunami. Alhamdulillah saat itu terkumpul uang 42 juta yang kami dapat sumbangkan. Lalu apa kegiatannya sekarang setelah tidak lagi di Penerbit Liingkar Pena? Saya berhenti dari sana karena ada perubahan manajemen. sebagai CEO harus berada di kantor setiap hari. Asma merasa dapat membangun eksistensi dari rumah, yang dapat menjadi sayap yang membawa kita menjadi lebih baik. Suami akhirnya membantu mendirikan sebuah penerbit: AsmaNadia Publishing House. Asma juga menerapkan bahwa royalty tidak boleh telat dibayar, karena ternyata tidak menjadi jaminan bahwa penerbit Islam juga menjadi islami dalam pembayaran. Namun ternyata ada kendala pada distribusi. Asma memang tidak mau menerima investor lain. Sekarang merasa lebih enak, walau kecil, namun kami punya sendiri sehingga kami bisa menerbitkan buku sendiri. Kami sekarang sudah memiliki lima judul buku. Yang dua judul merupakan co-branding dengan Lingkar Pena Publishing House Apa yang menjadi pertimbangan Asma dalam menulis dan menerbitkan buku? Sebetulnya ada ruang edukasi yang secara bertahap bisa diisi penulis kita, untuk perempuan. Asma menulis apa yang buat Asma harus disuarakan ke pembaca, karena menurut Asma ini dibutuhkan oleh pembaca. Seperti buku Jangan Jadi Muslimah Nyebelin, rasanya memang perlu untuk Muslimah yang berkerudung memperhatikan kebersihan diri dan sebagainya. Asma tidak merasa harus terbebani dengan membuat tulisan yang lebih bagus dari hari ke hari, bukan itu. Tujuan menulis bukan untuk menjadi pemenang ini dan itu. Namun ketika tulisan tersebut diapresiasi, ya itu adalah hal yang lain. Ternyata sekeluarga menulis semua ya? Saya sekeluarga bertiga. Yang menjadi penulis Asma dan Helvy. Adik Asma memang tidak, namun rasanya dia juga bisa jadi penulis, karena dia kalau cerita bisa lucu. Suami juga penulis yang bagus. Dia penulis buku yang dibaca sebentar tapi bisa menggebrak, tapi penjualannya lebih ke komunitas. Kalau Caca [Putri Salsa-Red] anak Asma, sudah menulis dari usia 7 tahun. Walaupun ngetiknya masih dipangku. Sekarang dia sudah membuat enam buku. Kami gembira dia menulis. Kami jadi tahu unek-uneknya, tahu tahapan dia, juga kami bisa ketawa-ketawa membaca tulisan dia. Adiknya, Adam, sempat menulis cerita pendek dan masuk ke antologi kasih untuk anak-anak Rumah Baca Penjaringan. Saat ini Adam sedang menyiapkan buku pertamanya. Mohon doa. Setelah menulis berbagai kisah, kisah apa yang paling menyentuh dalam hidup seorang Asma Nadia? Ada dua kisah saya yang dituliskan sepotong-sepotong dalam Catatan Hati di Setiap Sujudku. Semua tentang pengalaman doa-doa yang dikabulkan. Dunia kan makin egois dan menghimpit kita. Saya yakin banyak doa-doa yang dikabulkan tapi tidak dipublikasikan. Padahal dengan ditulis maka bisa menebalkan keyakinan masyarakat untuk bersandar pada doa. Yang pertama mengenai rumah kami yang hampir kebakaran, dan yang kedua Adam yang di usia 2 bulan terkena pendarahan otak karena masalah zat pembeku darah. Dokter waktu itu bilang bahwa setiap dia kejang akan mengurangi kecerdasannya. Alhamdulillah darahnya terserap sempurna. Kami menghadapi Adam dengan penuh syukur karena dia sekarang pintar menempatkan diri, kecerdasan sosialnya baik, dan senang sekali berolahraga. Memiliki anak adalah salah satu hal terbaik dalam hidup saya.
Emak Ingin Naik Haji, kata penonton yang katholik dan penonton muslim, ketika uang bukan tujuan membuat film
Yth. Mbak Asma Nadia , Dengan segala hormat perkenankan saya mengucapkan 'banyak selamat' untuk film Emak Ingin Naik Haji yang , Alhamdulillah , sudah saya tonton sebanyak 3 kali ber'turut2...dan cerpen'nya telah saya baca sama banyak'nya...
Film yang , buat saya , sangat menyentuh dan ceritanya menjadi lebih cantik dalam pengembangan'nya dari sebuah cerpen menjadi sebuah film...
Saya adalah seorang katholik yang sangat menghargai perbedaan dalam ber'agama dan bagi saya pribadi cerita dan film Emak Ingin Naik Haji ini membuka mata saya lebih lebar lagi akan arti 'naik haji' bagi saudara2 saya para muslim & muslimah...kepasrahan Emak yg begitu dalam & juga keinginan Zein utk sekedar membuat Emak bahagia benar2 sebuah kisah nyata yang sangat pahit , tapi bila dijalani dgn ikhlas dpt menjadi suatu berkah tersendiri...
Sekali lagi 'banyak selamat' , terus ber'karya mbak !
Salam saya utk seluruh pendukung film 'Emak Ingin Naik Haji' , terutama mas Aditya Gumay yg telah menjadikannya film yg cantik , Reza Rahadian yg - sebagai pendatang baru di dunia layar lebar - bermain sangat bagus , juga ibu Aty Kanser 'Emak' yg benar2 juara deh...apalagi dalam scene di pinggir laut bersama Zein , scene yg paling berkesan buat saya :-) , sekali lagi selamat ya mbak !
Bila diperkenankan saya diberikan alamat e.mail nama2 tersebut di atas , ingin saya menyampaikan salam & hormat saya secara langsung...
Hormat saya ; Chandra Jusuf
Seorang penonton sempat membandingkan dua film ini, 2012 dan Emak Ingin Naik Haji yang saat ini tayang bersamaan di bioskop tanah air.
"Subhanalloh, Mbak. teman saya kemarin nonton EINH, apa dia bilang? "Lebih membekas daripada 2012!" Suaminya sampai nangis2, bahkan dia tiba2 rindu tanah suci, padahal katanya sebelumnya dia tidak mau disuruh naik haji. Mungkin EINH tidak seheboh 2012, tapi saya yakin film ini berkah dan berdampak positif bagi penonton:-)"
Sms tersebut saya forwardkan kepada dua produser film Emak Ingin Naik Haji. Tanggapan mereka:
Mizan: Alhamdulillah, respon yang membesarkan hati.
Aditya Gumay: Alhamdulillah, mbak. Tercapailah tujuan kita menyentuh banyak orang untuk menyadari dirinya, dan semakin menguatkan niat para muslimin/at untuk ke tanah suci. Syiar yang kita lakukan lebih besar 'untung' pahalanya daripada materi yang bisa dicari kapan pun. Ini kita niatkan betul jadi amal jariyah yang insya allah jadi penyelamat kita di hadapan ilahi Robbi nanti... amin.
kita berdoa utk mizan dan mas aditya gumay, film ini akan bertahan lama dan insya allah balik modal secara materi, mdh2an meraih keuntungan, agar banyak film2 baik lain yang bisa digarap oleh mereka yang berharap keuntungan lain disisi Allah. amin
terakhir testimoni buku kumpulan cerpen Emak Ingin Naik Haji dari pembaca baru Asma:)
Assalamualaikum wr wb
Mbak Nadia, baru empat judul cerpen yang saya baca dari buku kumpulan cerpen EMAK INGIN NAIK HAJI. Berkali-kali bolak balik bersitegang menikmati puisi, cerpen, dan novel, jujur saya sama sekali tak tertarik dengan ‘ASMA NADIA’. Ini bertama kali saya menyentuhnya, terpaksa, tak ada buku yang bisa saya lahap lagi. Tetapi.....treeeeeeeeeeeen
g....jeleger..... TERIMA KASIH. Ada perasaan besar di mana kejujuran seperti hujan turun menenggelamkan kering bumi. Setidaknya, saya lebih merasakan bagaimana perempuan bicara dengan hati terdalamnya. Terus berkarya mbak. Catat saja saya sebagai satu fans baru yang akan menantikan jurus silat jemari embak yang menari di tuts keyboard mewartakan cerita lewat kata.
Salam alaik Ttd, Idrus
ps: yang belum nonton Emak Ingin Naik Haji, nonton yuk! Ajak pasangan, anak, orang tua, om tante, sepupu, teman2 sekantor, teman2 se FB (hihihi), teman2 sekampung, teman2 alumni, teman2 ngeblog, atau ada donatur yang mau mentraktir anak2 panti asuhan, majelis taklim di daerah kurang mampu, atau anak2 jalanan dan rumahbaca? Berbagi semangat menaklukan mimpi, berbagi nilai melalui tontonan yang menuntun... insya allah ibadah juga di sisiNya.
****
Lima pemenang umroh dari lomba kisah inspiratif Emak Ingin Naik Haji yang diselenggarakan Mizan dan Smaradhana Pro sudah diumumkan semalam di Plaza Senayan. Termasuk dua nama yang insya allah berangkat umroh, melalui rizkiNya dari royalti buku kumpulan cerpen Emak Ingin Naik Haji dan donasi PTRI Jenewa. Yuk, beli bukunya dan nonton terus filmnya, mdh2an lebih banyak mereka yang berhak Allah undang ke tanah suci melalui tangan2 kita...amin.
Beberapa hari yang lalu saya menangis saat bercerita di studio Mas Adam Permana. Saya berbicara dengan Mbak Ria, istri Mas Adam, penata musik film Emak Ingin Naik Haji (EINH).
Ini malam ketiga. Malam pertama di studio, saya mendengar musik lagu Mengetuk Langit Mekkah, yang saya tulis di sela2 hari pertama syuting film EINH. Mas Aditya menelepon saya, usai acara launching buku Muhasabah Cinta Seorang Istri. Saat itu saya sedang bersama Rahmadiyanti, Sita dan suami, serta keluarga, makan malam, intinya beliau memaksa saya untuk bersedia duet dengan Mbak Ria Adam membawakan lagu itu.
Meski tidak yakin, akhirnya paksaan itu saya terima. Karena Mbak Ria yang bersuara merdu juga tidak ingin tampil sendiri. Jadilah besoknya kami rekaman hingga pukul dua pagi.
Hari ketiga ini... Genta, pemeran Siti ikut membantu mengisi lagu tersebut hingga lebih indah. Dan di hari ketiga itulah, entah mengapa saya tiba2 teringat Kang Gito Rollies. Persahabatan kami dan kepercayaan beliau terhadap saya yang dulu bagi saya terasa mewah. Sebab ketika itu tidak ada yang sedemikian percaya kepada saya, seperti almarhum.
Pertemuan pertama dengan Kang Gito Rollies dijembatani Mas Dian, jika saya tidak salah ingat. Dari Venusa. Waktu itu Kang Gito mencari penulis cerita untuk membuat konsep bagi sinetron serial yang diproduksinya.
Dibantu seorang kawan, konsep cerita pun dibuat. Treatment untuk skenario pertama pun sudah selesai. Sepertinya Kang Gito senang dengan konsep dan penokohan yang kami tulis. Beliau tidak sabar mengajak kami ke Bandung untuk melihat lokasi yang menjadi alternatif setting bagi sinetron serial itu.
Saya tidak mengenal Kang Gito sebelumnya. Tapi keakraban begitu saja terjalin. Apalagi ketika beliau tahu bahwa saya anak Amin Ivo's, teman lama. Pulang dari Bandung, Kang Gito sendiri yang menyetir. Teman saya duduk di depan, dan saya sebagai satu2nya perempuan, duduk di belakang. Sebelum ke Jakarta, dalam obrolan ketika beliau tahu saya penggemar yamin, beliau pun mengajak kami mampir makan yamin di tempat favorit beliau, sebelum mobil menuju Jakarta.
Konsep sinetron keluarga berseri yang sudah dibuat memang kemudian tidak terwujud. Ada kendala di pihak investor. Kang Gito memohon maaf untuk itu. Tidak masalah buat saya, belum rezeki.
Setelah itu persahabatan kami berlanjut. Saling mendoakan, saling bertausiyah, dan saling memberikan kabar baik dan mensupport. Saya sangat terkesan dengan keramahan dan kerendahhatian almarhum. Tidak banyak selebritis yang saya kenal ramah di pertemuan pertama, tetap menyapa dengan keramahan yang tidak berkurang sedikitpun, di pertemuan2 berikutnya. Barangkali karena memang nggak banyak juga selebritis yang saya kenal:)
Kang Gito sempat mengundang saya ketika pentas bersama Cornelia Agatha di Gedung Kesenian Jakarta. Ketika saya tiba, langsung diajak ke belakang panggung dan diperkenalkan Antara lain kepada Dwiki yang waktu itu menjadi penata musik... juga pemain2 lain.
"Kenalin ini Asma Nadia, penulis ngetop. Bagus2 tulisannya..." Kata kang Gito semangat.
Biasanya saya hanya menahan senyum, sebab umumnya mereka belum mengenal saya.
Dan di kesempatan2 yang lain ketika Kang Gito bertemu dengan selebritis lain yang memiliki PH, atau akses ke tivi, Kang Gito mengirimkan sms kepada saya,
"Asma, tadi saya bertemu Pak ini... juga ibu itu. Saya bilang ke mereka kalau cari penulis untuk sinetron atau film, ada penulis bagus namanya Asma Nadia..."
Dan sms2 serupa berkali2 saya terima. Juga ketika Kang Gito mulai sakit dan banyak pihak menjenguk beliau. Saya terharu, sebab Kang Gito malah mempromosikan penulis si asma nadia itu:)
Sebelum Emak Ingin Naik Haji, ada beberapa novel yang sempat dilirik produser, PH atau sutradara.
Seorang artis yang juga sutradara sempat menyebut di satu tabloid, bahwa beliau akan memfilmkan novel saya yang berjudul Derai Sunyi, yang bercerita tentang penganiayaan pembantu rumah tangga yang berujung kematian. Saya sempat kaget ketika ditanya wartawan yang membaca pernyataan si artis, pasalnya saya sendiri belum dihubungi. Baru kemudian kami duduk satu meja, dan artis tersebut berbicara dengan semangat... pertemuan pertama, lalu kedua, lalu... selesai. Tidak ada kelanjutannya lagi.
Satu cerita lain sempat dibayar, entah untuk FTV entah untuk sinetron, oleh sebuah PH sebelum kemudian tidak ada kelanjutannya.
Sebelum itu seorang artis yang juga sutradara perempuan meminta saya membuat sinopsis, yang kemudian disetujui, daan dilanjutkan dengan diskusi2 berikut hingga pembuatan treatment. Cerita cinta yang penuh perjuangan dan romantis buat saya, lagi2 nggak ada kelanjutannya.
Terakhir beberapa bulan lalu, seorang produser melirik naskah Istana Kedua. Investor kabarnya sudah ada. Sudah mulai bicara tentang harga, bahkan draft perjanjian sudah saya terima. Pertemuan dengan penulis skenario pun sudah dilakukan. Mengingat plot Istana Kedua yang cukup rumit, perlu disiasati agar tetap menarik ketika divisualkan.
Saya sempat berharap lebih, sebab memiliki kesamaan visi dengan produsernya yang sama2 perempuan, telah membaca Istana Kedua dan tersentuh, serta suka dengan pesan yang tidak verbal dalam novel itu.
Tapi lagi2... mendadak investor mundur. Dan proyek pun menggantung.
panjang jalan terasa bagi seorang penulis, sebelum karyanya naik ke layar lebar. setidaknya itu yang saya rasakan. Sementara pembaca dengan santainya bertanya,
"Mbak, kok Aisyah Putri nggak difilmkan, sih?" "Mbak, Cinta di Ujung Sajadah dilayarlebarkan dong... " Atau, "Mbak, novel istana kedua bagus banget deh, kenapa sih nggak mau difilmkan?"
:)
Saya tidak lagi memikirkan tentang itu. Apa yang saya lalui membuat saya bersikap santai ketika ada pihak2 yang menyatakan tertarik dengan cerita yang saya tulis.
Saya anggap mereka bercanda. Seperti komen dari satu PH yang sukses dengan film layar lebar mereka yang dibuat dengan anggaran lumayan.
"Nanti naskah mbak asma kita filmkan juga. tapi yang anggarannya murah2 saja...yang settingnya di rumah saja." ujar beliau sambil tertawa, yang saya balas dengan senyum.
Pada sebagian besar dari mereka saya tidak menemukan kepercayaan, seperti yang sungguh2 saya dapatkan dari Kang Gito. Bukan salah mereka. Sebab biasanya orang memerlukan bukti, track record atau apalah... dan menurut mereka saya mungkin belum memiliki itu. Apalagi proyek film memerlukan biaya besar. Saya mengerti itu.
Kepercayaan bahwa saya bisa. Asma bisa, saya dapatkan dari almarhum. Hanya beliau. Ketika saya belum memiliki apa pun. Tidak hanya untuk cerita, tapi juga untuk membuatkan lagu bagi beliau setelah album religinya beredar di pasaran.
"Takut nggak bisa, kang... " saya takut lagu yang saya buat nanti jelek. Nggak seperti yang diinginkan beliau.
"Bisa, pasti bisa. kamu kenal siapa akang, tahu karakter akang, pasti bisa buat lagu yang pas untuk akang."
Dan saya pun berjanji, meski tak sempat menepati, sebab Kang Gito keburu pergi, dan menyisakan kehilangan yang sangat di hati keluarga, dan seluruh penggemar. Juga di hati saya. Seorang sahabat yang mempercayaimu, telah pergi Asma...
Lalu suatu malam di bulan Oktober atau November, saya lupa persisnya, saya mendapatkan sms, kemudian telepon dari Aditya Gumay yang mengaku tertarik akan satu cerita pendek yang saya tulis dan sempat dimuat di majalah Noor.
Tentu saja saya tidak asing dengan nama Aditya Gumay. Tapi sikap saya biasa saja. Tidak ge er, atau melonjak2. Tidak juga ketika keesokan harinya saat bertemu Mas Aditya langsung menyerahkan draft perjanjian untuk ditandatangani agar beliau bisa mendapatkan izin menggarap Emak Ingin Naik Haji.
Beliau juga menyiapkan sejumlah uang, tidak besar... tapi bagi saya menunjukkan kesungguhan yang aneh. Tapi tetap saja saya tidak berani berharap banyak. Takut jika saya kecewa. Takut jika kecewa membuat saya tidak bersyukur.
"Sudah ada investor, Mas?"
Aditya Gumay menjawab, belum. Tapi saya menangkap semangatnya.
Dan semangat di mata Mas Aditya, tidak berubah. Bahkan semakin bertambah setelah skenario selesai.
"Sudah ada investor, Mas?"
Belum. Jawaban yang sama. Tapi sesuatu membuat sutradara muda itu terus bergerak, dengan atau tanpa investor.
Belakangan kami mendapatkan investor. Lalu proses casting dimulai. Beliau melibatkan saya, seperti permintaan saya sebelumnya. Baik ketika skenario selesai. Beliau dengan rendah hati pun menampung usulan koreksi saya terhadap beberapa adegan di dalam skenario. Juga hal2 lain...
Lalu seperti mimpi, proses syuting dimulai. Diawali dengan syukuran sederhana di apartemen beliau. Proses casting mencari pemeran Zein yang paling sulit, akhirnya terpecahkan dengan hadirnya Reza Rahadian, sementara pemeran Emak dari awal hanya Aty Cancer yang ada di benak kami.
Saya menghadiri mungkin 80% dari syuting yang dilakukan. Juga saat syuting di Pelabuhan Ratu. Ikut menginap dan sekamar dengan Emak. Yang berkesan bagi saya adalah, Mas Aditya selalu menyediakan ruang bagi saya. Padahal saya bukan siapa2, tapi saya yang nggak kenal pemain dan kru selalu diterima dengan baik. Mas Adit sering mengajak saya mengintip dari monitor.
"Nih, kalau mbak asma mau lihat..."
Ramah, sabar, penuh persaudaraan dan... optimis.
Juga ketika investor pertama mundur. Dan syuting sempat terhenti. Tetapi tidak ada keraguan yang terbaca ketika bertemu dengan beliau
"Sekalipun dengan dana sendiri, film ini akan saya selesaikan insya allah, mbak. Bismillah."
Semangat.
Saya tidak berani memposting apapun tentang film ini. Sekali pun Mas Adit sudah mengizinkan.
Saya masih khawatir. Takut ada kendala lain, takut proyek ini nggak jadi lagi.
"Insya allah, mbak Asma, Bismillah." Itu selalu jawaban beliau. Menguatkan. Mengembalikan kepercayaan.
Alhamdulillah Mizan kemudian menguatkan. Hingga film akhirnya selesai, promosi mulai dilakukan.
Saya, hanya memegang peran kecil dalam film ini. Tetapi ruang yang disediakan Mas Adit bagi saya, subhanallah. Dengan caranya beliau membuat saya merasa peran kecil itu berarti,
"Ketika sutradara ... membuat film dari novel ini, Mbak. Dia hanya mengambil satu garis saja dalam novel itu. Dan tidak memakai yang lainnya. Dalam cerpen mbak Asma, hanya ending yang diubah, tapi plot lain semuanya terpakai, tidak ada yang bisa saya buang."
Dan menjelang gala premier... di studio Mas Adam itu tiba2 air mata saya tumpah. Teringat Kang Gito dan kepercayaan begitu besar yang diberikannya kepada saya. Ketika belum seorang pun memercayai saya.
Kepercayaan yang kemudian dimiliki Aditya Gumay, kepada saya.
Sampai sekarang, saya belum pernah sanggup menuliskan kehilangan saya akan kepergian Kang Gito. Air mata saya yang masih sering tumpah saat mendengar alunan suara beliau, atau saat shalat malam. Kepergian beliau membuat saya rajin mengirimkan alfatihah. Membuat saya ingat bahwa seharusnya saya lebih sering mengirim alfatihah juga bagi keluarga yang telah pergi... sebab alfatihah, hanya itu yang sekarang menjembatani saya dan orang2 yang saya sayangi yang sekarang sudah tidak ada. Menjembatani saya, dan Kang Gito.
Kehilangan yang dalam dan sulit digambarkan. Mungkin karena bersama kepergian beliau, pergi juga orang yang selalu menyemangati saya, seorang sahabat yang memercayai saya lebih dari siapa pun.
Sampai kapan pun saya tidak akan lupa saat Michelle memeluk saya yang tak bisa menahan air mata, saat bertakziyah dan melepas almarhum untuk terakhir kali. Kata2 yang Michelle bisikkan di telinga saya,
"Asma, dia sayang sekali sama Asma. Dia bangga sekali sama Asma..."
Mohon doa dari rekan2. Untuk Kang Gito Rollies almarhum dan keluarga yang ditinggalkannya. Untuk Emak Ingin Naik Haji...yang tayang perdana 12 November ini.
dan untuk Mas Aditya Gumay, yang telah sepenuh hati menyutradari film Emak Ingin Naik Haji... hingga membuat haru siapa saja yang menontonnya.
Padanya saya menemukan satu sosok sahabat lagi untuk berjuang, menggantikan yang telah pergi...
****
(Malam tadi Bang Isa tiba2 bilang: Bunda, kalau Gito tahu tentang film Emak ini, dia akan senang, ya Bunda...)
ket: foto bareng adenin dan aditya gumay, right dari 21cineplex.com
Apa kabar rekan-rekan? Semoga semua senantiasa dalam perlindungan Allah. Saya baru membuka internet pagi ini dan mengetahui ttg gempa, adakah teman2 di milis yang ikut terkena pengaruh? Semoga tidak ada yang menjadi korban. amin...
Tidak terasa sudah sepekan saya berada di desa kecil di Morges, sekitar 25 menit dari Jenewa untuk program writers in residence.
Itu artinya ada dua pekan lagi untuk dijalani. Kami, lima penulis dari berbagai negara, tinggal di sebuah castle yang dulunya merupakan kediaman penerbit asal Jerman yang banyak menerbitkan karya sastrawan dunia, seperti Hemingway, Henry Miller dll.
Saya tinggal di kamar utama, yang paling besar. Terdiri dari tiga ruangan, sebuah kamar tidur dengan meja kerja yang menghadap ke jendela, dengan perapian dan sofa mungil di depannya. Lalu sebuah ruangan lagi yang juga memiliki jendela sendiri, di mana sekelilingnya merupakan lemari pakaian. Dan ketiga kamar mandi dengan detail keemasan yang klasik, dengan bath tub.
Terlalu mewah bagi saya...karena kamar ini sebesar rumah belakang kami.
Alhamdulillah segalanya nyaman dan saya mendapat banyak kemudahan. Termasuk dari rekan sesama writers in residence, mereka ikut repot mengamati isi kulkas dan membacanya dengan cermat, agar saya tahu apa yang boleh saya makan, apa yang sebaiknya dihindari. Makan pagi dan siang kami persiapkan sendiri, sementara makan malam merupakan momen istimewa di mana seorang chef menghidangkan makanan pembuka, utama dan penutup. Saya bersyukur bahwa penyelenggara sangat memperhatikan bahwa saya muslim, hingga makanan yang dihidangkan insya allah dengan bumbu2nya tidak mengandung yang haram...
seseorang bahkan mewanti2 di whiteboard pagi ini, agar tidak ada alkohol dalam dessert kami. bahagianya mendapat teman sesama penulis yang baik2.
Saya bersyukur mendapat kesempatan mengenal mereka: Kerry Keys (Poet and playwright, Lithuania), Youssepf Raihani (Playwright, Marocco), Antoaneta Nikolova (Poet, Bulgaria), dan Beatrice Lamwaka (short story writer, Uganda)
Saya belum berpuasa lagi, setelah sempat puasa bbrp hari, hak khusus perempuan:). Tapi saya mencoba tidak kehilangan kebaikan ramadhan, dalam zikir walau tidak seberapa.
Namun rindu sekali suara azan dan suasana ramadhan di tanah air. kangen dengan wajah anak2. Betapa berbuka dan sahur bersama mereka merupakan nikmat luar biasa... semoga ada kesempatan tahun depan berpuasa bersama mereka, amin.
Tidak ada kewajiban lain selama di sini kecuali menulis. siang biasanya saya pakai berjalan ke beberapa kota yang tidak terlalu jauh seperti Lausanne, Montreux, kemarin mampir ke desa kecil di Perancis yang terletak di perbatasan perancis dan swiss, yang indah, hijau, bersih dan asri dengan bunga2 di depan rumah. seperti juga desa2 kecil lain di swiss yang sempat saya kunjungi.
Iri dengan kesungguhan penduduk juga pemerintah yang membuat setiap desa layak menjadi tempat wisata... indonesia, semoga suatu hari.
tetap- semangat berkarya teman2 alhamdulillah dengan bantuan mb ari peach, juga sitaresmi sidharta saya bisa membawa buku Emak Ingin Naik Haji dalam bahasa inggris. dan bisa berbagi karya penulis FLP kepada sastrawan dari negara lain. Semoga tidak mengecewakan...
AsmaNadia Publishing House tetap jalan insya allah. Sejauh ini selain Jilbab Traveler, buku perjalanan bagi muslim/ah yang bicara tentang impian dan seberapa kuat kamu menaklukkannya, ada Aisyah Putri: Jadian, Boleh Dong bagi remaja muslim kita yang ingin memahami cinta sekaligus terhibur dengan cerita dan karakter2nya yang lucu... ada Emak Ingin Naik Haji... ah buku berisi kisah2 mengharukan ini mudah2an bisa menjadi kebaikan lebih jika kita beli dan hadiahkan kepada teman-teman, seperti kata mb sandrina malakiano dan suami saat mereka membelinya di Gramedia bbrp waktu lalu (Kami berniat menjadikannya hadiah, Asma bagi siapa saja..., karena niat buku ini yang baik, semoga bisa memberangkatkan mereka yang saleh, sudah berumur dan rindu tanah suci... namun tidak mampu...). Mbak Sandrina juga cerita betapa air matanya mengambang padahal baru membaca halaman kaver depan dan belakang buku. Mohon doa rekan semua agar niat kita bersama bisa diwujudkan dan seluruh royaltinya bisa menjadi jalan bagi banyak kebaikan.
Ada satu buku baru, yang bekerja sama dengan Lingkar Pena Publishing House seri penulis cilik punya karya: Cool Skool karya anak kami, Putri Salsa yang buku My Candy nya sempat menjadi best seller. Semoga-bisa menghibur adik2 kecil yang berpuasa...
Itu dulu dari saya, insya allah tgl 4 nanti akan bersilaturahim dengan FLP Jerman dalam workshop dan seminar paginya. Tanggal 12 ini ada rencana workshop bagi staf kedutaan RI di Jenewa.
Doakan semoga Allah berikan saya kesehatan dan bisa menjalani amanah dengan baik dan mengompori mereka yang cinta menulis untuk terus dan terus menulis.
Cara: 1).Transfer Rp. 28.000 (untuk 100 pembeli pertama) plus ongkir ke rekening BCA 7650334064 an Asmarani Rosalba. Info ongkir, telepon 77820859 atau 087885273530 (Pak Misbah), hari dan jam kerja. 2) setelah transfer Konfirmasi via SMS 087885273530 atau email ke penerbitasmanadia@gmail.com (tulis nama, alamat, no KTP) 3) Namamu akan dicatat dan diundi untuk memenangkan 25 tiket gala premier NONBAR film Emak Ingin Naik Haji (khusus pembeli yang tinggal di wilayah Jabodetabeci) dan hadiah serta souvenir menarik dari Asma Nadia Publishing House! 4). Untuk pemesan setelah 100 pembeli pertama, berlaku diskon 20%, nama tetap dimasukkan dan berpotensi memenangkan nonbar film Emak Ingin Naik Haji, bagi kamu yang ada di jabodetabeci. bagi yang di luar jabodetabeci tersedia 25 merchandise dan hadiah menarik dari asmanadia publishing house bagi yang beruntung! 5). Buku dikirimkan paling lambat sepekan setelah terbit. 6). Rencana pemutaran film Emak Ingin Naik Haji, pekan ketiga September atau awal Oktober 7). Nama-nama 25 Pemenang NonBar Emak Ingin Naik Haji akan diumumkan di http://anadia.multiply.com serta di seluruh facebook Asma Nadia (3 account) 8). Bagi pembelian di toko, bisa mengirimkan struk pembelian buku Emak Ingin Naik Haji dari toko buku mana saja ke alamat:
Asma Nadia Publishing House up. Pak Misbahul Hakim
Jl. Kemang Swatama Blok B - 29A Studio Alam, Depok 16414
9). Promosi ini ditutup 10 September 2009
Buruan...!:) Pemesanan yang disertai dengan pembelian buku lain dari AsmaNadia Publishing House akan mendapatkan peluang lebih untuk memenangkan tiket nonbar film Emak Ingin Naik Haji...
*100% Royalti buku Emak Ingin Naik Haji diberikan untuk sosial kemanusiaan, khususnya membantu para saleh dan salehah yang sudah berumur, rindu tanah suci tapi kurang mampu. Membeli buku ini berarti bersama-sama mewujudkan impian mereka, insya allah.
-- Asma Nadia
TELAH TERBIT: Jilbab Traveler: Berjilbab Nggak Berarti Kamu Nggak Bisa Keliling Dunia! -- sebuah buku yang akan menyalakan lagi mimpi2 lamamu yang terkubur... very inspiring!
Film ini menggambarkan perjuangan orang kecil yang rindu naik haji.
Mak menundukkan kepala, merayapi daster batik kusam yang dipakainya. Tidak lama, sebab satu pikiran mencerahkan wajah perempuan itu lagi. "Masjidnya bagus di sono ya, Zen? Lampunya banyak," Mak terkekah. "Eh, berape sekarang ongkosnya, Zen?" "ONH biasa atau plus, Mak?" Mak tertawa. Beberapa giginya yang ompong terlihat. "Kagak usah plus-plusan. Mak kagak ngerti." "Kalo kagak salah dua ribu tujuh ratusan." "Murah itu!" Kali ini Zen tertawa. "Pakai dolar itu, Mak. Kalau dirupiahin mah dua puluh tujuh jutaan." Suara riang Mak kontan meredup, "Dulu sih kita punya tanah. Tapi keburu dijual waktu Bapak sakit." Beberapa saat Mak hanya menghela napas panjang. Suaranya kemudian terdengar seperti bisikan, "Mak pengin naik haji, Zen. Pengin."
Begitulah sepenggal potongan cerpen karya Asma Nadia yang berjudul Emak Ingin Naik Haji.Sebuah cerpen yang menggambar kesediahan seorang wanita tua (Emak) yang tidak mampu mengumpulkan segepok uang bekal naik haji. Sementara anaknya, Zein, merasa menjadi pecundang seumur hidup karena tidak bisa mewujudkan mimpi Emaknya itu.
Karena kekuatan ceritanya itu, cerpen yang dibuat pada tahun 2007 ini lantas digubah ke skenario film layar lebar oleh Aditya Gumay dan Adenin Adlan. Aditya pula yang menyutradarainya. Didi Petet, Reza Rahardian (Zein), Aty Kanser (Emak), Ustad Jeffri, dan Nini El Karim dipercaya sebagai pemain. Kini shooting sedang dilakukan di Jakarta, dan akan berlanjut di Pelabuhan Ratu dan Mekkah.
Dari sudut pandang Asma, kisah Emak dalam cerpen tersebut merupakan salah satu bentuk gambaran ketimpangan umat Islam Indonesia dalam melaksankan rukun kelimanya. "Ada orang yang susah sekali naik haji tapi ada juga orang yang berkali-kali naik haji," ujarnya.
Karena permasalahan sosial itu, Asma sudah sejak lama menginginkan sebuah karya tulis yang bertema haji. Lama keinginan itu terpendam hingga pada tahun 2007 Majalah Nur memintanya menulis sebuah cerpen tentang haji.
Permintaan itu datang sekitar satu bulan sebelum Asma benar-benar naik haji. Dia diberikan waktu lima hari untuk menyelesaikan cerpen tersebut. Namun, karena merasa kurang cocok dengan hasil yang dia buat, Asma meminta tambahan waktu lagi.
Segala upaya dia curahkan untuk membuat satu buah cerpen itu. Dia bahkan melakukan riset tentang cara-cara orang naik haji. Dia mendapatkan kenyataan bahwa ada tarif naik haji dengan pelayanan biasa saja, tetapi ada pula yang dengan tarif sangat mahal dan fasilitas yang luar biasa.
Pengalaman Bagi sebagian orang, naik haji bukan masalah besar, tapi ada sebagian orang yang harus bersusah payah mengumpulkan uang untuk naik haji. Pengalaman inilah yang juga dirasakan Asma ketika menetapkan hati untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima itu.
Pada awalnya dia hendak naik haji sendiri, namun sang suami kemudian terdorong untuk ikut naik haji. Tapi, uang yang mereka miliki belum cukup. Asma bahkan sempat menawarkan bantuan kepada biro perjalanan haji untuk membuatkan leaflet, brosur atau foto-foto cantik asalkan dia bisa mendapatkan potongan harga untuk naik haji.
Namun, biaya naik haji makin membumbung tinggi sehingga sulit untuk dijangkau. "Tapi berkat Allah saya dan suami bisa juga naik haji sampai suami bilang kita kira haji itu kita yang bayar tapi ternyata Allah yang bayar. Pokoknya nabung dan diniatin untuk haji meski cuma seribu perak per hari," ungkapnya.
Ketika sedang berada di tanah suci Asma juga menyaksikan bahwa cerpen yang dia buat itu bisa sangat menggambarkan perjuangan orang-orang yang merindukan naik haji. Asma bertemu dengan sepasang kakek nenek yang usianya sudah mendekati 80 tahun. Mereka sudah berada di tanah suci sejak bulan Ramadhan.
Untuk bertahan hingga bulan haji mereka memasang tenda kecil sekadar untuk berteduh. Mereka berangkat dengan usaha sendiri tanpa menggunakan paket ONH karena tidak bisa menunggu lagi, karena sudah uzur.
Aditya Gumay sang sutradara merasa bahwa fenomena yang terjadi tentang haji ini dialami banyak orang sehingga patut untuk diangkat dalam sebuah film. Saat ini tim produksi sedang sibuk melakukan shooting di beberapa wilayah di Jakarta dan sekitar pulau Jawa. rosyid nurul hakim
Persiapan yang Unik
Sebelum Aditya Gumay mendapatkan izin dari Asma Nadia untuk mengangkat cerpen Emak Ingin Naik Haji ke layar lebar, dia sudah melakukan persiapan, penulisan skenario dan pembelian properti.
Keyakinan Aditya itu berawal ketika pertama kali membaca cerpen itu pada pertenghan tahun 2008. Saat menghadiri acara perpisahan TK Al Ahzar di Taman Mini, dia mendapat sebuah goody bag berisi majalah-majalah lama. Salah satunya adalah Nur terbitan Desember 2007.
Saat membuka-buka majalah itu, matanya terpaut pada cerpen tersebut. Ketika selesai membacanya, hatinya tersentuh. "Saya bahkan sudah mendapatkan passion, keharuan dan sentuhannya untuk diangkat dalam bentuk film," ujarnya.
Dalam benaknya dia membayangkan perjuangan seorang anak untuk membahagiakan emaknya. Banyak sekali orang yang ingin menghajikan orang tuanya, tapi tidak memiliki dana. "Film ini mewakili begitu banyak impian anak yang ingin membahagiakan orang tuanya," jelasnya.
Karena sudah mendapat gambaran utuh tentang film yang bakal dibuatnya itu, Aditya berani membeli berbagai properti yang cocok ketika dia dan ibunya umroh pada Agustus 2008 lalu. "Padahal waktu itu saya belum ketemu Asma," katanya.
Selain itu, pada bulan desember 2008 dia sudah menggarap skenario film ini bersama dengan Adenin Adlan.
Jauh hari sebelumnya, Aditya sebenarnya sudah berusaha mencari nomor telepon sang penulis. Tetapi ketika nomor itu baru saja didapatkan, ternyata handphone Asma Nadia hilang sehingga nomor itu menjadi tidak berguna.
Enam bulan kemudian, dari seorang rekan, dia mendapatkan nomor kontak sang penulis. Mereka akhirnya bertemu setelah skenario dan beberapa persiapan awal untuk pembuatan film sudah selesai. "Saya bahkan langsung ditodong kontrak kerja padahal baru ketemu," ujar Asma Nadia. kim
Shooting Penuh Kemudahan
Ketika memulai shooting, Asma merasakan semangat dari setiap kru dalam tim produksi Emak Ingin Naik Haji. Mereka merasa mendapatkan jiwa yang berbeda ketika menggarap film ini. "Ada semacam syiar di dalamnya," ujarnya.
Bagi Aditya, shooting yang masih berjalan ini banyak mendapatkan kemudahan. Salah satunya ketika kru kesulitan untuk mendapatakan lokasi shooting yang bisa menggambarkan keadaan yang sesuai dengan cerita. Sebuah rumah kumuh milik Emak yang bersebelahan dengan rumah mewah tempat sang juragan haji.
Berhari-hari lokasi itu dicari namun sulit untuk dtemukan. "Karena umumnya rumah orang kaya di komplek elit, sedangkan rumah orang miskin di tempat kumuh. Jadi cukup sulit mendapatkan lokasi yang pas," ujarnya.
Kemudahan tiba-tiba saja muncul ketika seorang temannya menawarkan rumah besar dan rumah kontrakan miliknya. Rumah kontrakan kecil berderet mirip bedengan itu tepat berhadapan dengan rumah besar sehingga bisa menjadi lokasi yang cocok. Seketika, kru langsung bergerak untuk mendandani rumah kontrakan itu agar semirip mungkin dengan gambaran dalam cerpen.
Rumah kontrakan yang sebelumnya berdinding tembok dan berlantai keramik, dipermak sedemikan rupa sehingga menjadi kawasan kumuh. Aditya bersama kru artistik banyak berburu barang-barang bekas sebagai pengisi rumah Emak.
Selain itu, dia juga mencari kayu-kayu bekas untuk menutup semua tembok serta mengganti ubin keramik. "Soalnya kita mau membuat rumah ini terlihat kumuh dan menjadi bangunan kayu," ujarnya.
Aditya mengharapkan semua kemudahan itu akan terus terjadi dalam proses shooting yang dijadwalkan selama 20 hari -- 15 hari di jakarta, satu hari di Pelabuhan Ratu, dan sisanya di Mekkah. "Di Mekkah kita mau mengambil montase perjalan emak yang akhirnya terwujud. Kita bakal berangkat saat umroh. Kita ingin mendapat gambar orang saat sholat yang mengerumini Kabah," ujarnya.
Selama lima hari shooting di tanah suci itu, Aditya sudah memperhitungkan segala situasi termasuk bawaan peralatan pengambilan gambar yang diusahakan tidak terlalu banyak dan juga masalah perizinan. kim
Hal Unik dalam Film
- Skenario film ini sudah jadi sebelum meminta izin dari sang penulis cerpen, Asma Nadia. - Cerita dalam cerpen Emak Ingin Naik Haji berbeda dari biasanya. Dengan jumlah halaman yang sedikit cerpen ini bersifat multi tokoh dan multi konflik.. - Asma terinspirasi model penceritaan itu seusai menonton film Babel yang diperankan Brad Pitt, yang berisi banyak tokoh dan cerita namun akhirnya saling berhubungan. - Ada kejadian yang tidak dapat dilupakan Asma ketika shooting di sebuah rumah sakit. Sebuah sejadah kecil yang digunakan untuk sholat ditempeli tulisan Batas Suci agar orang-orang tidak sembarangan lewat. - Teknologi yang digunakan lebih murah tetapi kualitas yang dihasilkan bisa maksimal. Tim produksi hanya menggunakan kamera digital. kim (-)
NB: 1. Segera beredar buku Emak Ingin Naik Haji, Asma Nadia 2. Tidak mudah menggoalkan ide film yang baik, dan menjaganya agar tetap dalam koridor namun juga menarik, karena itu jika peduli dan berharap film-film religi makan marak di bioskop, makin banyak mengadaptasi dari karya2 teman-teman penulis fiksi islami, maka tonton di bioskop ya... sebab produser akan mengukur kesuksesan film dari berapa banyak tiket yang terjual. Ayo bantu gerakan solidaritas film2 religi, humanis dan bermutu, agar lebih banyak lagi di tanah air!
Apa perbedaan Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia? Keduanya sama-sama penulis. Telah menghasilkan puluhan buku yang diterbitkan berbagai penerbit. Di jalur menulis yang mereka pilih, masing-masing telah memenangkan banyak penghargaan menulis. Sejak akhir tahun 90-an hingga saat ini, buku-buku mereka masih terus dicetak ulang dan bertengger di rak top sellers dan best sellers.
Meski sekilas sama, ada satu perbedaan diantara saya (POV berpindah ceritanya, dari narator ke POV orang pertama:P, hehehe...) dan Helvy Tiana Rosa, sang kakak yang sejak awal menaruh kepercayaan bahwa adiknya bisa menulis, melebihi kepercayaan yang dimiliki sang adik:)
Perbedaan itu ada pada latar pendidikan kami. Saya hanya sempat mencicipi bangku kuliah beberapa tahun, karena kondisi kesehatan saat itu. Helvy sebaliknya, memiliki latar pendidikan sastra. Terakhir menyelesaikan S-2 jurusan Sastra Indonesia di UI beberapa tahun lalu dan lulus dengan IPK memuaskan.
Saya tidak seberuntung kakak saya itu. kuliah di jurusan yang nggak nyambung dengan dunia sastra. Tidak pernah ikut workshop kepenulisan, kecuali satu: ketika diundang menjadi peserta workshop menulis yang diadakan Majelis Sastra Asia Tenggara atau Mastera, tahun 2001.
Workshop ini menjadi satu-satunya workshop menulis yang saya ikuti dan meninggalkan kesan yang dalam. Sebagai aktifis Forum Lingkar Pena, yang memiliki ribuan anggota di berbagai pelosok tanah air dan di luar negeri, saya sungguh merasa bahwa bentuk workshop seperti inilah yang harusnya digalakkan di tanah air. Yang harusnya, dicicipi oleh anggota-anggota FLP, juga siapa saja yang ingin menjadi penulis.
Sebuah workshop, jauh lebih berarti ketimbang dialog, talkshow, atau seminar. Ada pembekalan keilmuan yang menurut saya harusnya disampaikan dengan simple, ringkas dan aplikatif, hingga setiap peserta tahu bagaimana menulis dengan lebih baik, setelahnya.
Workshop yang baik, selain membekali juga mampu membuat pesertanya bisa menemukan kekurangan dan kelebihan yang mereka miliki sebagai seorang penulis. Sehingga bisa melakukan lompatan yang signifikan bakda workshop. Tahu perubahan apa yang harus mereka buat, perbaikan apa yang harus mereka lakukan pada puluhan file yang saat ini bersembunyi dengan manis di folder komputer kita.
Idealnya workshop menulis diadakan minimal sekali tiga hari, ini menurut saya. Di Mastera waktu itu kami belajar selama 5 hari.
Ada proses menulis dan dibedah, yang berlangsung oleh instruktur yang tepercaya, dan memiliki kemampuan mengajar yang baik dan menyenangkan, hingga atmosfir workshop mendukung proses belajar. Akan lebih baik lagi jika proses ini kemudian terus berlangsung. Sebab upaya memproses diri tidak selesai, setelah kita menjadi penulis dan punya buku yang diterbitkan. Proses ini akan mengasah kreativitas, ini yang membuat kenapa ada penulis yang bisa terus menemukan ruang untuk berkarya, dan ada penulis-penulis yang setelah berkarya (seolah-olah) selesai, atau karyanya terkesan sebagai pengulangan alias itu-itu saja. Kebaruan dalam karya harus ditemukan lewat pencarian yang terus menerus.
Pengalaman dari mengikuti workshop di Mastera itu, belakangan saya coba tuangkan dalam konsep PULPEN (pelatihan kepenulisan) ASMA NADIA. Bagaimana memberikan workshop kepada mereka yang tidak punya latar belakang sastra atau bahasa dan asing dengan teori sastra? Bagaimana membuat workshop yang kena dan menarik? Dengan harapan sedikit pengalaman yang saya miliki bisa saya bagikan kepada rekan-rekan yang suka menulis.
Lainnya saya suka gemas dengan janji-janji yang terlalu muluk yang saya baca dalam iklan workshop menulis: Menjadi milyarder dengan menulis, misalnya. Apa lagi jika pemberi materi belum lagi menjadi penulis milyarder. Atau workshop MENJADI PENULIS HEBAT,sementara pematerinya masih harus membuktikan diri utk menjadi penulis hebat. Meski bisa saja berkilah bahwa hebat itu relatif. Tapi orang-orang hebat di bidang apa saja, punya satu ciri: mereka terlihat. Saya sendiri masih dalam proses dan tidak tahu apakah akan mencapai kata hebat itu. Tapi sedikit yang saya punya, insya allah akan saya bagi kepada siapa saja yang mau belajar, tanpa janji-janji terlalu muluk dari yang bisa saya berikan.
Tentu saja workshop sehebat apa pun tidak cukup. Pada akhirnya seorang yang ingin menjadi penulis harus menempa dirinya terus menerus, harus terus menulis, dan tidak berhenti berproses. Dibutuhkan kekuatan tekad agar semangat terus menyala dan kemampuan terus diasah.
Ayo menulis!
ps: info workshop menulis untuk pemula bersama : Helvy Tiana Rosa, Gola Gong, Asma Nadia 2-3 Mei 09. Manfaatkan diskon 70 ribu, sd 10 April, menangkan beasiswa mengikuti workshop 2 hari ini berupa diskon 50% sd GRATIS. Info lengkap klik : klik http://anadia.multiply.com/calendar/item/10155 Mudah-mudahan bermanfaat bagi teman-teman yang merindukan workshop yang efektif. Amin...
Masih banyak kekurangan yang seharusnya sudah saya buang jauh-jauh... Masih banyak kebaikan yang belum saya lakukan. Masih banyak mimpi yang belum saya capai...
Pikiran-pikiran itu, tentang plus minus diri, berkelebat di kepala saya ketika mata singgah dari satu poster CALEG ke poster CALEG lain yang kami lewati saat berkendaraan. Fenomena lain yang belakangan akrab dengan kita. Beberapa wajah- diantaranya tidak asing bagi saya, dalam atribut partai. Sebagian diantaranya mencantumkan sifat-sifat baik seperti amanah, peduli, profesional dan lain-lain.
Lalu saya ingat seseorang di milis pembacaasmanadia yang memohon agar saya jangan ikut-ikutan menjadi politisi. Seorang teman yang kadung pesimis dengan janji-janji para calon anggota legislatif itu. Tetapi seorang kawan yang pernah saya temui di Korea justru meninggalkan pesan berbeda di facebook saya. Katanya kalau saya maju maka dia siap mendukung:) Terakhir saya ingat betul kalimat Mas Arvan Pradiansyah yang dalam satu kesempatan ketika kami berdua menjadi pembicara di Islamic Book Fair Maret 2009 lalu menyebutkan: Kalau mau baik, jangan jadi politikus! Alasannya mereka yang berpolitik menghabiskan begitu banyak uang untuk kampanye... dengan uang sebanyak itu... maka menjadi lumrah jika hal pertama yang dipikirkan para caleg ini ketika terpilih adalah: bagaimana caranya agar segera balik modal!
Wallahu 'alam. Saya tidak bermaksud mengkritisi para CALEG. Sama sekali tidak. Saya percaya masih ada orang-orang politik yang baik dan maju karena ingin berbuat kebaikan lebih banyak bagi umat. Mean while, terkait poster-poster bernada promosi itu saya lebih suka mencatat sifat-sifat yang mereka cantumkan dalam poster atau papan iklan, lalu mencocokkannya dengan diri. dan dengan cepat saya menemukan kesimpulan: saya masih harus belajar, masih harus berbenah sebab begitu banyak deret kekurangan yang belum bisa saya usir dari diri. Sebaliknya jumlah kebaikan yang boleh saya catat... bisa dihitung dengan jari.
37 usia... ya Allah. Bilangan tahun yang terbuang percuma, jauh lebih banyak. Dan berapa sisa hidup yang masih saya miliki? Hanya Allah yang tahu.
Saya tahu, saya harus bergegas. Saya tahu, saya tidak boleh lagi santai-santai. Saya harus siap... ketika Dia memanggil sambil berharap bisa menjemput khusnul khotimah. (Amin ya Allah...)
Saya tidak mengerti... kenapa masih ada kemalasan padahal nikmatNya begitu banyak... padahal sering saya merasa begitu dimanjakanNya. Mungkin saya harus memaknai lagi kata 'syukur'.
37 usia. Dan sederet hadiah ulang tahun dariNya terpampang di mata saya.
sebuah buku Menyambut Usia 40 Tahun yang menyapa saya saat melangkah di Surabaya beberapa hari lalu. sebuah niat baik dari seorang sutradara untuk mengangkat satu cerpen saya ke layar lebar. walau masih sebatas niat... tapi cukup membuat saya haru. seseorang yang melamar saya untuk menjadi icon dari satu merek jilbab, yang dirintisnya. Ah, menjadi model di usia 37 tahun?:P Orang ini pasti bercanda!
Apalagi? Keran rizki yang dibukakanNya hingga satu demi satu RumahBaca AsmaNadia, walau masih amat sederhana bisa berdiri. Sekian lama ini... hati saya di rumahbaca menyadari buku telah memberi saya dua sayap hingga bisa terbang lebih tinggi menjejak hal-hal yang dulu tak terbayangkan. buku yang dibelikan Mami setiap kali beliau menemani saya menunggu antrean di rumah sakit Cipto Mangunkusumo, 30 tahun lalu. Buku yang selalu ada di genggaman saya selama menunggu giliran di RS. Islam, kadang hingga hampir tengah malam. Buku yang tetap berada di pangkuan hingga ketiadaan lauk ketika makan, menjadi tak terasa.
Buku telah mengantarkan saya melihat dunia. Dan tahun ini Allah menjawab doa saya... Memang masih sedikit... Berawal dari Jogja, Penjaringan (awalnya rumahcahaya), Balikpapan, dan terakhir RumahBaca AsmaNadia Ciledug... yang akan dilaunching ahad ini. Masih sederhana, jauh dari mewah. Masih ada yang bertempat di gardu, di garasi, rumah kontrakan, pondok pesantren, atau pun halaman rumah dari mereka yang baik hati. Tapi insya allah, semoga menjadi awal bagi mimpi-mimpi yang menanti anak-anak kita...
37 Usia Alhamdulillah. Allah pertemukan saya dengan teman-teman milis pembacaasmanadia, teman-teman penerbit yang telah membantu saya memenuhi mimpi ini. Juga mereka yang dengan ringan tangan telah memberikan infak dan sedekahnya. Semoga menjadi cahaya kebaikan bagi kita ketika tiba pada hari di mana tak ada cahaya yang mampu menyinari kecuali kebaikan yang dilandasi keikhlasan.
37 usia ya Allah semoga tak semua sia-sia... jazakumullah untuk semua sapa, semua perhatian, semua kebaikan, semua kepercayaan yang teman-teman limpahkan pada saya itu (dengan ge-ernya) saya anggap kado yang lain dari-Nya...:)
Doakan saya agar bisa mengejar semua kekurangan...
Sebuah surat elektronik memaksa saya menulis panjang. Dari seorang adinda di milis pembacaanadia, yang resah karena seseorang yang dia kenal ingin bercerai dengan suaminya. Berbagai tanggapan muncul, seperti biasa rekan-rekan di milis pembacaanadia, sungguh perhatian dan berusaha untuk menegakkan saling menasehati dalam landasan kebenaran dan kesabaran. Jawaban saya hanya satu dari sekian tanggapan rekan-rekan milis. Saya postingkan di sini, barangkali ada tetangga, rekan, sahabat, atau teman atau saudara yang sedang berada dalam situasi yang sama. Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Silakan bagi rekan-rekan yang ingin menyumbang saran atau doa...
--------------------------------
Assalamu'alaikum, Sebut saja tetanggaku, dia mau minta cerai sama suaminya. gara garanya dia merasa si suami ini ga bisa memenuhi kebutuhan ruhaninya. Setahuku sih sang suami itu rajin sholat, tapi mungkin emang terlalu sibuk kali ya. Ya, aktifitas ibadahnya kurang sekali gitu kata si tetanggaku. Padahal kan peran suami juga jadi pemimpin bagi kehidupan ruhiyah Lha, aku yang ditanyain kaya begitu..bingungnya bukan main.
Si Ibu itu udah aku coba nasihati, mbok suaminya dinasihati dulu. Tapi ternyata si suami itu galak. jadi si isteri itu juga ga berani nyuruh-nyuruh.Dan karena ternyata pernikahan mereka itu terpaksa, dan si isteri itu sedari dulu tak mencintainya.
Padahal kebutuhan materinya juga tercukupi lho. Lha aku bingung, apa ya semudah itu minta cerai... ga kan ya?
Ada ga yang bisa membantuku, buat ngasih ide ke si ibu itu, biar ga cerai..ato cerai aja?hehe..aku jadi bingung sendiri di curhatin begitu..secara, aku masih 20 tahun, nikah juga baru sebentar. Ga punya pengalaman begituan lah..
---
Wa'alaikumussalam,
Adinda, Idealnya seorang suami memang pemimpin. Idealnya, seorang pemimpin lebih baik, lebih paham ilmu agama ketimbang yang dipimpin, lebih saleh.
Tapi sebelum menikah, bukankah kita juga bertanggung jawab atas pilihan yang telah kita putuskan? Terlepas terpaksa atau tidak. Apakah kita tidak tahu bagaimana situasi dan kondisi suami dulu sebelum menikah, seberapa saleh, seberapa pengetahuan agamanya, seberapa dia bisa membimbing dalam hidup.
Dan kepemimpinan suami tidak hanya dalam masalah agama, tapi juga dibutuhkan untuk urusan lain, keputusan2 financial, keputusan2 tentang pendidikan anak, keputusan2 yang terkait dengan keluarga... menjaga istri dan anak, memastikan mereka aman, sehat, ternafkahi dengan baik... apakah sisi ini juga tidak bisa diandalkan?
Setiap orang berproses untuk menjadi lebih baik, selama proses itu berjalan, betapa pun perlahan saya kira kita harus bisa mengapresiasi ini. Kecuali jika si suami bukan hanya nggak bisa dibilangin (tp sudah dicoba belum utk diajak bicara? artinya bukan hanya menurut pendapat kita si suami tidak bisa diajak bicara, padahal kita memang belum pernah mengajaknya diskusi dengan tenang?), tapi juga sering melakukan tindak kekerasan, atau perbuatan yang termasuk dosa dalam islam seperti berjudi, minum atau ngobat... atau berzina, dan kita merasa tidak sanggup lagi untuk mendampingi karena kita juga membutuhkan kekuatan untuk membesarkan anak-anak dan memberikan mereka lingkungan yang sehat utk mereka tumbuh.
Dalam buku-buku yang saya tulis, saya ingin mengajak perempuan, para istri khususnya, di tanah air untuk kuat, utk bersiap untuk menghadapi ujian2 dalam hidup, utk menggali potensi, mengasah diri dan menjadi hamba allah yang lebih baik, ibu dan istri yang lebih baik. Juga kuat ketika harusberhadapan dengan situasi yang tidak ideal.
Tapi, perceraian adalah sesuatu yang halal tp dibenci oleh Allah dan seharusnya tidak dimudah-mudahkan.
Pernikahan juga ujian. Dan kita harus balance memandang ini. Tidak sesederhana misalnya: perempuan baik utk lelaki baik dan karena kamu sudah tidak baik (menurut mata saya)maka saya tidak bisa mendampingimu lagi.
mata kita, adinda adalah mata yang terbatas dan tidak bisa melihat jauh ke masa depan, pada hikmah yang mungkin allah simpankan. tetapi dudukkan masalah secara syariat... apakah yang kita benci padanya juga dibenci Allah? Apakah itu memberi mudharat besar bagi kita sebagai istri dan anak-anak misalnya. Apakah kita sudah mencoba untuk menjadi juru dakwah pertama kepadanya? yang mengingatkan dengan lembut, yang mengajak untuk kembali lurus setelah dia mungkin sempat melenceng? Dan sudahkah kita upayakan sakinah dalam keluarga, sekuat tenaga kita sepenuh kesungguhan? Berjihad dengan sebatas kemampuan kita?
Ini mungkin hal lain yang harus dipertimbangkan. Bukan soal apakah nanti ada yang akan mendampingi kita lagi, setelah bercerai... :) Saya pikir ini justru bukan hal utama yang masuk dalama agenda, tapi bagaimana kita bisa membesarkan anak-anak dengan lebih baik, tidak membuat mereka merasa timpang sekalipun orang tua sudah berpisah, bisa kah kita melengkapi jalinan yang mungkin hilang dan terasa bagi anak-anak? cukupkah energi kita? Juga perencanaan financial setelah perceraian. sebab ini juga tanggung jawab seorang ibu utk anak-anaknya, mengantarkan mereka utk mendapatkan hak2nya beroleh pendidikan sebaik yang kita bisa, sejahtera cukup sandang, pangan dan papan, hingga merasa pasti anak-anak tidak akan terlantar, khususnya tidak menelan akibat dari keputusan yang kita ambil (bercerai), sebagai seorang istri.
Semoga Allah berikan kejernihan, kesabaran dan kekuatan bagi semua perempuan di tanah air yang sedang berada di dua jalan dan bimbang, saat ini.
Belum lama ini seorang ibu menelepon saya, menceritakan kesedihannya. Hidupnya tidak bahagia karena suami yang terkesan nggak peduli, nyaris tidak ada lagi komunikasi yang berarti. Ada masalah lain, hutang yang entah bagaimana menumpuk besar, dan suami menyalahkan istri dan tidak mau membantu melunasi. Di tengah masalah ini, ada teman sekantor, laki-laki yang mulai memberi perhatian dan tahu-tahu menjadi dekat dan membuatnya jatuh cinta.
Dari sedikit usia yang telah saya lalui, saya belajar, bahwa kebahagiaan itu tidak jauh, dia ada di hati kita yang dipenuhi syukur. Kita sulit bahagia kalau setiap hari hanya melihat keluarga-keluarga lain yang bahagia dan melimpah secara materi lalu membandingkannya dengan diri, dan mulai menghitung kekurangan dalam diri, kekurangan dalam keluarga. Sibuk membuat list apa yang tidak kita miliki setiap hari.
Bagaimana bisa bahagia, bagaimana bisa semangat untuk berbuat dan kreatif, juga membangun hari-hari yang produktif bagi muslimah bisa lahir jika kita tidak mulai fokus pada apa yang kita miliki dan mensyukurinya.
Teringat ibu tadi, permasalahannya memang tidak sedikit. Sebagian kita merasa bahkan masalah kita luar biasa besar, antara lain karena kita kurang memperhatian masalah-masalah orang lain.
Seorang muslimah yang baru saja divonis terkena kanker ovarium dan harus melalui kemoterapi selama 6 x, persekalinya membutuhkan biaya 6 jt rupiah.
Seorang ibu, yang baru delapan belas hari lalu kehilangan anaknya, yang dipanggil Allah kembali dalam usia begitu dini.
Seorang istri yang baru saja menerima vonis bahwa suami yang selama ini begitu penuh kasih dan sayang, sangat sehat dan tidak pernah sakit seumur hidupnya, begitu tiba-tiba mendapatkan vonis bahwa kedua ginjalnya rusak dan harus cuci darah seumur hidupnya (Semoga Allah menguatkan mb Sari, suami dan anak-anak dalam melalui ini, amin...)
Seorang istri, saya kebetulan sempat menemuinya di rumah sakit. Yang dalam waktu bersamaan pada ramadhan lalu, mengalami kecelakaan dan harus kehilangan suami dan anak sulungnya, dan berjuang dengan kandungan yang menginjak 7 bulan, dalam keadaan luka parah dan harus melalui beberapa kali operasi.
Melihat permasalahan orang lain, dan mulai menghitung setiap nikmatNya yang kita miliki hari ini, adalah cara untuk menjadi pribadi bersyukur. Rasa syukur ini akan mengantarkan kita pada kebahagiaan, yang memberi atmosfir sehat bagi kita untuk melihat 'aset' yang kita miliki dan bagaimana menyalurkannya menjadi sesuatu yang kreatif dan produktif, dan bermanfaat bagi umat.
Ada begitu banyak anugerah, yang terselip di hari-hari kita, setiap hari, setiap menitnya, setiap detiknya.
Tubuh yang sehat, kemudahan dalam beribadah, alhamdulillah.
Suami yang setia, mungkin tidak romantis dan mengucapkan I love you berkali-kali, atau membawakan kita bunga atau cokelat dalam wadah berbentuk hati, namun telah sungguh-sungguh menafkahi dan mengisi hari-hari bersama anak-anak.
Anak-anak, sumber kebahagiaan kita yang mungkin nakal dan menguras kesabaran, tetapi alhamdulillah dalam kondisi sehat dan lincah. Keberadaan orang tua yang masih menemani hari-hari kita... kakak dan adik.
Rumah tempat berteduh, mungkin kecil, ventilasinya tidak nyaman, banyak nyamuk, tetapi alhamdulillah telah menjadi saksi kebersamaan keluarga. Makanan yang masuk ke tubuh kita setiap hari Air... udara... Akal yang membantu kita berpikir untuk mengatasi masalah demi masalah setiap hari.
Dan nikmat islam dan iman. Yang membuat kita tahu betapa sulit pun keadaan yang dihadapi, betapa pun besar ujian yang menimpa, kita tahu kita tidak pernah sendiri, sebab Allah ada, dan Dia dekat.
Saya telah menulis banyak cerita tentang perempuan: Catatan Hati Seorang Istri, Karenamu Aku Cemburu, Catatan Hati Bunda, Catatan Hati di Setiap Sujudku, La Tahzan The real Dezperate Housewives, La Tahzan for Mothers, Istana Kedua, etc.
Namun tidak ada maksud saya untuk mengajak psegenap perempuan di tanah air untuk tersungkur menyesali nasib buruk mereka: suami yang mungkin pernah selip dan tidak setia, ujian-ujian lain yang seakan sulit untuk ditanggung.
Tetapi justru dari berbagai kisah itu saya ingin mengajak sesama perempuan, untuk tetap dalam syukur, sambil kita lipatgandakan kesabaran dan keikhlasan.
Sebab hidup tidak berhenti di sini. Ada akhirat di mana segala ketidaksempurnaan dan kekurangan yang kita lalui selama hidup di dunia, akan tercukupi surga-Nya
****
Keterangan foto:
1. Asma Nadia, Karima, Mb Tutut, dan Mbak Sari (berdiri). 2. Bersama Ukhti Ii (kehilangan anak dan suami sekaligus dalam kecelakaan motor, mereka ditabrak truk container) 3. Bapak dan Ibu dari Yoga Ananda, saya menulis kisah mereka dalam buku LA TAHZAN FOR MOTHERS
Saya menerima banyak sekali pertanyaan, dari rekan-rekan di Forum Lingkar Pena, juga milis pembacaanadia. Ada juga yang japri berkali-kali ke alamat email saya (asma.nadia@gmail.com FYI email yahoo jangan dipakai lagi ya, jarang saya tengok).
Intinya: Mbak Asma Nadia rencananya ngapain? Setelah keluar dari Lingkar Pena, terus...? bahkan ada yang sempat melemparkan dugaan: "Mbak Asma mau berhenti dulu ya dari dunia persilatan (baca perbukuan:))?"
Kenapa saya pamit dari Lingkar Pena Publishing House juga menimbulkan pertanyaan. Satu hal yang jelas, saya bukan pamit dari Lingkar Pena karena ingin bikin penerbit sendiri. Sama sekali bukan karena itu. Saya pamit karena perubahan kebijakan dari investor (Mizan) dari perjanjian awal ketika pertama kali saya dilamar Mizan untuk merintis Lingkar Pena. Dari Nol hingga kemudian mencapai omzet hampir 1 M ketika saya pamit. Tentang omzet ini, cukup membuat saya berlega hati, setidaknya perusahaan membaik, bukan karena saya tapi juga karena dukungan seluruh kru lingkar pena dan mizan yang dengan telaten membimbing.
Tetapi betapapun sayang saya terhadap Lingkar Pena, saya tidak bisa memenuhi keharusan ngantor tiap hari. Dari dulu nggak dapat izin bekerja kemana-mana karena itu. Jadi kalau diharuskan mengantor sebab seorang CEO harusnya di kantor, saya tidak bisa. Apalagi selama ini saya kerap menyemangat rekan-rekan muslimah dalam seminar, talkshow dan berbagai kesempatan, agar mereka: adik-adik yang masih sekolah dan belum menikah, untuk merintis eksistensi sejak dini, agar nantinya bisa bekerja dari rumah...
Lainnya ada perubahan tawaran dari Investor, awalnya saya boleh invest untuk buku-buku yang saya terbitkan. Artinya saya menanggung cost cetak buku, baik berdua Lingkar Pena maupun sendirian. Modal saya nggak banyak... jauh dari bisa membuat penerbitan besar. Dari awal saya sudah sampaikan juga, bahwa saya nggak akan invest di semua buku, sekalipun secara matematis, insya allah 5000 eksemplar terjual dari setiap judulnya, minimal.
Ketika tidak diizinkan invest lagi, saya kemudian ditawari sistem lain yang legal menurut investor. Saya masih mempertimbangkan, sebelum kemudian penawaran kembali diubah, sebelum saya sempat memberikan jawaban.
Pendek cerita, saya akhirnya pamit. Saya berterima kasih banyak kepada Mizan sebagai investor yang telah memberi kesempatan saya belajar. Juga kepada teman-teman di Lingkar Pena yang selama ini telah mendukung saya, meski ritme kerja saya mungkin tidak mudah diikuti. Pengertian teman-teman selama ini, khususnya Bang Andi, Nita, Lian, Hadi dan Taufan, terima kasih meski capek tapi tetap tersenyum menghadapi saya:)
Lalu, apa yang kemudian saya lakukan? Menulis, insya allah. Mendirikan penerbit? Ah, apa iya... modal saya kecil. Saya belum tentu bisa menjual produk. Kata Mas Gong, kenapa harus bikin penerbit asma? Kenapa nggak menulis saja?
Iya, nyamannya memang hanya menulis saja. Saya setuju dengan Mas Gong. Tapi saya ingin memberi ruang lebih khususnya kepada rekan-rekan yang baru mulai menulis, khususnya lagi sederet perempuan-sebagian besarnya ibu-ibu dari berbagai usia, yang bergabung di milis pembacaanadia@yahoogroups.com Mereka yang selalu bersemangat menerima undangan menulis yang saya lemparkan di milis. Semangat yang membuat saya terus harus berpikir kreatif... Ide-ide apa lagi yang bisa saya gulirkan sebagai latihan, namun sekaligus bisa membuka ruang agar tulisan mereka pun bisa diterbitkan? Selain upaya saya menulis buku sendiri.
Dan saya kadung jatuh cinta tidak hanya menulis, tp juga dunia penerbitan. Saya menikmati betul setiap prosesnya. Saya menikmati diskusi panjang dan berkali-kali dengan desainer sampul, juga berdiskusi dengan banyak pihak, lay outer buku, ilustrator... editor. Intinya bagaimana buku yang diterbitkan lebih memberi manfaat bagi pembacanya, bukan sekadar menarik, tapi menjawab kebutuhan. Bagaimana sosok buku bisa menampilkan itu, informasi, sampai membuat sinopsis. Saya juga menikmati senyum (dalam ruang imajiner saya) ketika teman-teman pengarang menerima royalti atau honor tulisan, atau saat mereka melihat buku pertama mereka terbit.
Hm, bukan keputusan mudah. Saya memerlukan waktu cukup lama untuk berpikir. Dan saya juga harus berterima kasih kepada teman-teman FLP Hongkong yang kemudian memfasilitasi perjalanan saya untuk mengisi workshop, juga memberikan hadiah tiket ke Beijing. Memberi cukup waktu, dan warna lain dalam perenungan saya. Dalam menyusun langkah ke depan.
Begitulah. buku baru saya dkk (sebagian dari milis pembacaanadia, selain dari FLP), insya allah sebentar lagi terbit: Jilbab Traveler
Saya harus menyusun keberanian untuk memilih langkah ini, sebenarnya. Banyak kekhawatiran. Bisakah saya? Apalagi saya tetap akan menjunjung visi dan misi FLP, salah satunya menyejahterakan penulis.
Rasanya saya lemah, apalagi mengingat modal:) Jauh lah dari Lingkar Pena. Tapi saya percaya, saya punya niat baik lalu tentang kekurangan modal itu? Ah tentang ini, saya tidak pernah kurang percaya bahwa meski pencapaian saya dalam hidup masih sangat sederhana, saya yakin Allah Maha Kaya.
Mohon bantuan doa dan support rekan-rekan bagi penerbit baru ini: AsmaNadia Publishing House (add contact ya di penerbitasmanadia.multiply.com)
Bismillah!
Catatan: Jilbab Traveler insya allah beredar pekan ketiga Februari. Cegat di Islamic Book Fair ya, di stand distributor kami: Salamadani.
saya mendapatkan sebuah surat dari seorang adinda di Multiply. Dalam sedih, dalam kemarahan, dalam luka yang terpancar jelas terhadap ayahnya.
Saya berduka karenanya. Sebab adinda kita harusnya ceria, gembira di usia remaja harusnya tak banyak memikirkan hal-hal yang membuat susah. Harusnya mereka membangun diri dan potensi, menyusun mimpi masa depan...
Saya tidak tahu kejadian sebenarnya. Tapi berharap dan berdoa agar Allah melindungi setiap orang tua dari melukai hati anak-anak mereka.
Hidup entah untuk berapa lama. Usia... akan terus bertambah. Tidak selamanya kita muda, sekejap saja sebenarnya kita akan menjadi renta. Ketika hawa nafsu dunia berangsur memudar dan bayangan kubur serta akhirat lebih sering terbayang, sebab tubuh yang menua mulai sakit-sakitan dan berangsur kita tak berdaya... kita butuh keluarga yang tulus merawat dan mengizinkan kita bersandar... apakah mereka akan ada untuk kita, ketika hari itu tiba?
akan tiba suatu hari, ketika kita tua dan anak-anak dewasa lalu melalui hari-hari seperti kita dulu. saat melihat mereka salah langkah dan hampir jatuh pada jurang kesalahan dan dosa, dan begitu ingin kita bisa memberikan mereka masukan, pegangan... jika berkaca pada kehidupan ketika muda apakah mereka akan mendengar? jika selama mereka tumbuh, kita tidak cukup melukis pelangi, pada hati, pikiran dan mata mereka? mungkin malah berkali-kali menyemaikan luka.
Semoga Allah lindungi iman setiap perempuan, setiap ibu. setiap lelaki, setiap ayah Semoga Allah jaga hati dari mudah tergoda yang membawa luka pada bening mata anak-anak kita.
Amin...
-------
Asw Mbak Asma? Gmnn kbarnya? Smg Mbak dan keluarga sehat selalu dan dilindungi Allah.. Saya sangat suka dengan buku Mbak Rani ... Catatan Hati Seorang Istri...dan saya sering promosiin ke tmn2 saya...
Tolong Mbak.. Mbak bisa lihat di (sensor) disana saya beberkan kekesalan saya ttg perselingkuhan papa.
Apa yg harus saya lakukan sbg anak yg baik? Stelah mendapat balasan dari perempuan itu, mama msh belum puas, krn di dalam blog perempuan itu mash byk cerita2 cinta dan poligami. Dan mama ingin foto2 keluarga itu jg bisa dilihat oleh papa, krn papa di rumah seperti gak terjadi apa2... Mama mikirnya mereka masih berhubungan, mgkn lwt sms atau bisa aja mrk buat MP yang baru... Saya melarang mama, krn sudah cukup kata2 itu ditujukan ke wanita ini, klo ditujukan ke papa, nt ribut.... Dan dengan keberaniannya, mama msh ingin bgt buat MP sendiri bareng teman2nya (mgkn hr Senin besok), supaya di MP itu papa bisa liat foto2 keluarga di dalamnya, ceritanya kepergok gt.
Menurut Mbak, apa yg terjadi dgn wanita itu dan papa skrg? Sepertinya mama sudah siap untuk cerai, jika emg begitu...(krn udh sesak bgt).. Saya mah terserah aja...! Adik jg udah siap menerima itu.. Menurut Mbak apa yg mesti saya lakukan?
Tolong jawab pertanyaan saya Mbak.. Mksh...
---- Balasan:
wa'alaikum salam wr wb
De... maaf ya... tapi mb rasa kurang bijak membeberkan di multiply hal-hal seperti itu... atau memang ayah suka main tangan ke kamu kalau seandainya k amu bicara baik2 pada papa?
saya tidak tahu apa yang terjadi dengan mb fulanah dan papa. kadang banyak hal nggak bisa kita ubah... tp berdoa dan tetap berdoa mdh2an suatu hari ketentraman sejati didapatkan. doa... karena Allah tahu yang terbaik. doa karena Allah Maha Pembolak balik hati. doa ketika kita sudah tidak kuat untuk melakukan apa2. bersandar padanya, mohon agar diberikan sifat kasih dan rahimNya
jika semua marah, lantas siapa yang membimbing adik... menguatkan mama, dan keluargamu utk membangun nilai2 islam? selamatkan apa yang bisa kamu selamatkan. bangun adikmu menjadi hamba yang lebih baik di mata Allah dibanding papa, jadi pasangan yang gentleman dan lebih baik dari papa kepada keluarganya.
banyak tugas menunggumu. kuatkan mama, ingatkan utk tetap zikir dan memperbanyak ibadah. jika memang keputusan berpisah harus diambil... salat istikharah dulu ya biar allah memilihkan yang terbaik utk keluargamu.
jangan biarkan kemarahan yang berlarut merusak hatimu, membuatmu lupa akan prioritas2 lain dalam hidup yang harus kamu lakoni dengan baik, agar bisa membahagiakan mama dan adik2 ketika papa tak bisa lagi diandalkan.
cari cara bicara sama papa langsung. kalau perlu minta bantuan om atau saudara yang dihormati papa utk menegur papa. Mungkinkah jika sebenarnya papa dan perempuan itu sudah menikah diam-diam? Jika benar apakah ibu lebih ikhlas bila demikian? apakah kamu akan lebih tenang? bangun hidupmu sayang... bangkit dan cari kekuatan, utk masa depanmu. Mbak percaya kamu bisa.
maaf jika ada yang tidak brkenan. semoga allah mudahkan dan berikan jalan keluar terbaik. Amin