SIAPIN kertas tissue atau saputangan sebelum baca buku ini ya. Sekumpulan cerita pendek pilihan Asma Nadia dalam buku ini, hampir semuanya mampu menggedor sisi kepekaan pembaca. Meski mungkin saja ketika baca judulnya kita bertanya-tanya, apa sih istimewanya kalau Si Emak kepengen pergi haji?
Dari gaya tuturnya yang lincah melompat-lompat, kita serasa diajak berkeliling dari lokasi dan adegan satu ke lokasi dan adegan yang lain. Lumayan filmis gitu. Yang bikin rada-rada trenyuh, Asma menampilkan sosok Emak yang tua, polos, sederhana juga miskin tapi pengeeen banget naik haji dan nyicip air zam-zam sangat ironis sama tokoh Juragan Haji. Si juragan yang merupakan tetangga terdekat Emak ini, bolak-balik naik haji. Saking tajirnya, pergi haji selalu sama-sama istri dan bahkan pernah membawa 22 orang sanak keluarga. Sementara, anak tunggal si Emak, Zein (pelukis dan pedagang kaligrafi) ingin bisa mewujudkan impian ibunya itu. Sayang, Zein sempat kepleset dalam bertindak ...
Polosnya Emak, tergambar dalam dialog dengan anaknya.
"Kalau jalan kaki (ke Mekkah, red), berapa jauh Zein?"
"Jaman sekarang kagak mungkin, Mak."
"Masjidnya bagus di sono, ya Zein? Lampunya banyak," Emak terkekeh.
"Eh, berape sekarang ongkosnya, Zein?"
Selain tokoh sentral ibu beranak itu, ada juga tokoh lain seperti seorang anggota dewan yang doyan selingkuh sama sekretarisnya. Dia mau naik haji demi mendapat gelar yang bisa mendongkrak perolehan suara dalam pemilihan, istri si anggota dewan itu dan Sri, anak Juragan Haji. Gimana keplesetnya Zein dalam bertindak, dan ending cerpen ini, tentu lebih seru kalau dikudap sendiri.
Cerpen-cerpen lain, menyentuh juga. Entah sengaja atau tidak, sepertinya Asma membuat selang-seling antara cerpen kritik sosial dan kisah cinta. Sesudah Emak Ingin Naik Haji adalah Cinta Begitu Senja yang bikin kita gregetan. Selanjutnya cerpen Koran, yang ditata sedemikian rupa runutnya, jadi terkesan memang sudah diatur begitu. Si tokoh mulanya getol banget baca surat kabar, katanya dengan koran ia bisa jadi pintar. Lama-lama si tokoh muak, soalnya berita-berita buruk terus yang disuguhkan, dan itu menyangkut orang-orang terdekatnya. Sampai-sampai ia fobia sama koran.
Pada dasarnya semua menarik, dengan plus dan minus tiap-tiap cerita. Bahasa Asma yang relatif ringan dan kriuk-kriuk ini, pas buat kita yang pengen baca sembari mengasah kepekaan dan membangkitkan semangat toleransi, solidaritas dll. Kulik langsung saja ya, habis baca pandangan kita jadi lebih benderang (soalnya sudah cuci mata juga) ... insyaAllah! [Esthi-annida online]
Penerbit : AsmaNadia Publishing House, 2009
Jl. Merapi Raya No. 44
Depok, 16417
Telp/Faks: (021) 7712100
Tebal : 192 Halaman
Harga : Rp 40.000
kaver dan info lengkap
http://penerbitasmanadia.multiply.com/reviews/item/3BACA BUKUNYA, TONTON FILMNYA DI BIOSKOP TANAH AIR MULAI 12 NOVEMBER... MENONTON DI HARI PERTAMA TELAH MEMBANTU MENGANGKAT IMEJ FILM DI MASYARAKAT... AGAR LEBIH BANYAK FILM2 BAIK DI TANAH AIR
PS: seluruh royalti buku diperuntukkan utk sosial kemanusiaan termasuk membantu mewujudkan mimpi mereka yang saleh dan salehah, sdh berumur, rindu tanah suci tetapi kurang mampu. Membeli buku ini, mereviewnya, berarti membantu mewujudkan mimpi mereka